Bagnaia Waspadai Masalah Grip di MotoGP Australia
Pecco Bagnaia pulang dari MotoGP Mandalika tanpa poin setelah terjatuh. Ia khawatir masalah grip ban belakang yang dirasakannya sejak awal musim kembali mengganggu di Australia.
Pecco Bagnaia khawatir masalah daya cengkeram ban belakang yang mengganggu performanya di MotoGP Mandalika akan kembali muncul pada seri Australia. Pembalap Ducati Lenovo itu pulang dari Grand Prix Indonesia 2026 tanpa poin setelah terjatuh di Tikungan 17, tetapi persoalan yang lebih besar baginya adalah kesulitan teknis yang disebut telah membayangi Ducati selama dua tahun terakhir.
Bagnaia menilai Mandalika membuat kelemahan motor Ducati terlihat jelas. Sirkuit tersebut menuntut kecepatan saat menikung dan grip yang memadai, sementara dua hal itu justru menjadi sumber kesulitannya. Ia juga merasa respons motor terhadap bukaan gas tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mandalika menyingkap persoalan grip Ducati
“Mandalika memperlihatkan kemunduran yang dialami Ducati selama dua tahun terakhir. Situasi ini tidak ideal,” ujar Bagnaia. Menurut dia, karakter lintasan Indonesia mempertegas masalah yang sudah ia rasakan sebelumnya, terutama kurangnya dukungan dari bagian belakang motor.
Bagnaia mengatakan koneksi antara putaran gas dan respons motor terasa kurang baik. Dalam kondisi lintasan yang sejak awal memiliki grip rendah, minimnya cengkeraman membuatnya semakin sulit mengendalikan motor dan menjaga kecepatan di tikungan.
“Di sini, kurangnya koneksi yang baik dengan gas sangat terasa. Saya kekurangan daya cengkeram. Di lintasan yang sejak awal memang memiliki grip rendah, tidak adanya dukungan dari bagian belakang motor membuat saya semakin kesulitan,” kata Bagnaia.
Ia mengakui pembalap Ducati lainnya juga menghadapi kesulitan. Namun, berdasarkan data yang diamatinya, kendala mereka tidak separah yang ia alami. Perbedaan tersebut membuat Bagnaia belum merasa motornya bekerja pada tingkat performa yang sama dengan motor Ducati lain.
Masalahnya bukan hanya pada ban belakang. Bagnaia juga menyebut menjaga tekanan ban depan di Mandalika bukan perkara mudah. Minimnya titik pengereman keras, ditambah kelembapan, suhu, dan faktor lain, membuat pembalap kesulitan mempertahankan tekanan ban dalam rentang ideal.
Terjatuh pada lap keenam saat berusaha mengejar
Kesulitan itu berujung pada kecelakaan ketika balapan baru memasuki lap keenam dari total 27 lap. Bagnaia kehilangan kendali bagian depan motor di Tikungan 17, titik yang sama dengan lokasi kecelakaannya pada musim sebelumnya. Ia saat itu berusaha memperbaiki posisi dan mendekati Luca Marini, antara lain untuk meningkatkan tekanan ban depan.
Upaya tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Bagnaia mengakui dirinya terlalu memaksakan motor dalam kondisi yang tidak mendukung. Ia membutuhkan kecepatan lebih tinggi, tetapi motor tidak memberikan respons yang diinginkan. Saat terus menekan, bagian depan kehilangan kendali dan ia terjatuh ke aspal.
Hasil itu membuat akhir pekan Mandalika kembali berakhir tanpa poin. Meski demikian, penampilannya kali ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya: Bagnaia tidak berada di posisi paling belakang dan masih berusaha mengejar kelompok 10 besar sebelum kecelakaan menghentikan balapannya.
Tekanan ban depan juga menjadi tantangan bagi banyak pembalap di sirkuit tersebut. Sejumlah rider terlihat mengatur posisi dan mencari kesempatan untuk menaikkan tekanan sebelum kembali menyerang. Bagi Bagnaia, kondisi itu menambah rumit persoalan grip yang sejak awal musim telah mengganggu performanya.
Bagnaia belum yakin masalah tak berulang di Australia
Menjelang seri Australia, Bagnaia belum menemukan solusi yang benar-benar meyakinkan. Ia menilai kekurangan daya cengkeram belakang berpotensi menjadi masalah besar di sana. Kekhawatiran itu muncul karena kendala yang dialaminya bukan hanya persoalan satu sirkuit, melainkan situasi yang menurutnya telah berlangsung sejak awal tahun.
“Sejak awal tahun, saya berada dalam situasi tanpa daya cengkeram belakang sama sekali. Di Australia, hal ini bisa jadi masalah yang sangat besar,” ujar Bagnaia.
Ia berharap tim dapat menemukan perbaikan yang membuat perilaku motornya lebih baik. Targetnya, Ducati yang ia kendarai setidaknya bisa bekerja dengan performa yang mendekati motor Ducati lainnya. Mandalika memperjelas jarak yang ia rasakan, tetapi seri berikutnya akan menjadi ujian apakah perubahan yang dicari tim mampu mengatasi masalah tersebut.
Bagnaia juga ditanya soal hasil yang mungkin diraih jika tidak terjatuh. Ia memperkirakan hanya akan finis berdekatan dengan Luca Marini dan Fabio Quartararo. Perkiraan itu menggambarkan bahwa, bahkan sebelum kecelakaan, ia belum merasa memiliki kecepatan untuk bersaing di posisi terdepan.
Dengan jadwal berlanjut ke Australia, perhatian Bagnaia kini tertuju pada daya cengkeram belakang dan respons motor. Bagi Ducati, menemukan solusi bukan sekadar soal satu hasil balapan: konsistensi performa akan menjadi kunci agar kendala yang terlihat di Mandalika tidak kembali membatasi Bagnaia pada seri berikutnya.
