Menahan Pipis Berulang Bisa Tingkatkan Risiko ISK
Menunda buang air kecil berulang kali dapat meningkatkan risiko ISK, meski tidak ada batas waktu pasti yang berlaku bagi semua orang. Dokter juga mengingatkan pentingnya asupan cairan dan kewaspadaan bagi kelompok berisiko.
Kebiasaan menunda buang air kecil karena rapat, perjalanan, atau pekerjaan yang belum selesai bisa meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK), terutama jika dilakukan berulang. Tidak ada batas waktu pasti yang langsung membuat seseorang terkena infeksi. Namun, makin sering dan lama seseorang menahan kencing, risikonya dapat bertambah.
Spesialis urologi Prof dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU(K), PhD, menjelaskan kepada detikHealth bahwa menahan kencing termasuk faktor risiko ISK yang kerap terjadi. Situasi seperti terjebak macet atau sulit menemukan toilet yang layak juga bisa membuat seseorang menunda ke kamar kecil.
Keinginan buang air kecil merupakan sinyal tubuh bahwa kandung kemih perlu dikosongkan. Kandung kemih memang berfungsi menampung urine, tetapi bukan berarti kebiasaan menahannya berulang kali tidak berdampak pada saluran kemih.
Tak ada batas waktu yang berlaku bagi semua orang
Dokter Manish, ahli uro-onkologi dari Apollo Hospitals Bannerghatta Road, menyebut orang dewasa umumnya buang air kecil setiap tiga hingga empat jam pada siang hari. Angka itu bukan jadwal yang harus diterapkan secara kaku. Frekuensi dapat berbeda, antara lain karena jumlah cairan yang diminum, aktivitas, dan kapasitas kandung kemih.
NU Online, dengan mengutip dokter Ita Fajri Tamim, menyebut frekuensi buang air kecil normal dapat berlangsung sekitar enam hingga tujuh kali sehari. Perbedaan gambaran tersebut menegaskan bahwa kebutuhan tiap orang tidak selalu sama. Yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan mengabaikan dorongan buang air kecil secara terus-menerus.
Menahan kencing terlalu lama juga dapat membuat kandung kemih bekerja lebih keras. Ita menjelaskan, kebiasaan tersebut bisa menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman di perut dan saluran kemih. Pada sebagian orang, dorongan yang ditahan terlalu lama juga dapat berujung pada keluarnya urine tanpa disengaja.
Jika proses berkemih tidak tuntas dan urine terus tersisa, pengendapan dalam kandung kemih berpotensi membentuk batu. Ita menyebut batu kandung kemih dapat menyebabkan kesulitan atau nyeri saat kencing, nyeri di perut bawah, hingga darah dalam urine. Ia juga menguraikan risiko gangguan yang lebih berat, seperti urine mengalir kembali ke ginjal dan pembengkakan ginjal.
Cairan dan kondisi kesehatan ikut memengaruhi risiko
Menunda buang air kecil bukan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan ISK. Prof Harrina menjelaskan, kurang minum juga dapat meningkatkan risiko. Asupan cairan yang memadai membantu menghasilkan urine lebih banyak dan lebih jernih, sehingga kuman yang mulai berkumpul di saluran kemih dapat terbawa keluar bersama urine. Sebaliknya, urine yang lebih pekat dapat memudahkan koloni kuman terbentuk.
Risiko infeksi juga berkaitan dengan kondisi tubuh. Diabetes disebut dalam beberapa penjelasan dokter sebagai salah satu faktor yang membuat seseorang lebih rentan. Manish turut mengingatkan kelompok dengan pembesaran prostat, gangguan neurologis, atau riwayat ISK agar lebih waspada. Prof Harrina menambahkan, orang yang menggunakan obat penekan daya tahan tubuh, seperti steroid, serta pengidap penyakit autoimun juga dapat memiliki risiko lebih tinggi.
Pada perempuan, perubahan hormon menjelang dan setelah menopause dapat berpengaruh. Menurut Prof Harrina, estrogen membantu melindungi saluran kemih dan vagina. Ketika kadarnya menurun pada masa perimenopause atau menopause, perlindungan terhadap infeksi ikut berkurang.
Kebiasaan sederhana untuk menjaga kandung kemih
Langkah yang disarankan para dokter cukup sederhana: jangan terus menunda ketika tubuh memberi sinyal, dan jaga asupan cairan. Manish menyarankan pasiennya menyediakan waktu beberapa menit untuk pergi ke toilet serta mendengarkan sinyal dari kandung kemih. Saran ini terutama relevan bagi orang yang kerap menunda karena tuntutan pekerjaan atau perjalanan.
Namun, kebiasaan buang air kecil setiap beberapa jam bukan pengganti penilaian terhadap kondisi masing-masing orang. Frekuensi dapat berubah sesuai aktivitas dan jumlah minum. Penderita diabetes, gangguan saraf, pembesaran prostat, maupun mereka yang pernah mengalami ISK perlu lebih memperhatikan perubahan pola berkemih.
Rasa nyeri ketika kencing, kesulitan mengeluarkan urine, atau darah dalam urine termasuk keluhan yang disebut dalam penjelasan para dokter mengenai gangguan saluran kemih. Pada kondisi yang berat, infeksi dapat mencapai ginjal dan membutuhkan penanganan medis segera. Karena itu, mengosongkan kandung kemih saat muncul dorongan dan tidak membiasakan diri menahan kencing menjadi langkah awal yang dapat dilakukan sehari-hari.
