Rokok Dapat Mengubah Suara dan Merusak Pita Suara
Asap rokok dapat mengiritasi dan membengkakkan pita suara, membuat suara serak atau lebih berat. Serak yang bertahan tiga hingga empat minggu perlu diperiksa dokter THT.
Suara yang terdengar lebih berat atau serak setelah seseorang merokok bukan semata perubahan kebiasaan berbicara. Paparan asap rokok dapat mengiritasi dan membengkakkan pita suara, sehingga getarannya terganggu. Bila berlangsung lama, perubahan suara bisa menetap dan perlu diperiksa, terutama ketika disertai keluhan lain.
Metapos melaporkan bahwa asap tembakau melewati saluran pernapasan dan bersentuhan langsung dengan jaringan di laring. Zat kimia dalam asap dapat memicu peradangan serta meningkatkan produksi lendir. Dampaknya bukan hanya suara terdengar berbeda, tetapi juga kemampuan menggunakan suara dapat menurun.
Penjelasan tersebut disampaikan Dr Rohit Udaya Prasad, Lead and Senior Consultant bidang THT dan Cochlear Implants di KIMS Hospitals Bengaluru. Ia menerangkan bahwa pita suara bekerja dengan bergetar ketika udara melaluinya.
“Pita suara merupakan dua pita jaringan di dalam kotak suara atau laring. Pita tersebut bergetar ketika udara melewatinya untuk menghasilkan suara,” jelas Dr Rohit Udaya Prasad.
Peradangan mengubah getaran pita suara
Ketika asap rokok berulang kali mengenai jaringan tersebut, iritasi dan pembengkakan dapat mengubah cara pita suara bergetar. Pada tahap awal, perubahan mungkin terdengar sebagai suara serak atau lebih rendah daripada biasanya. Sebagian orang juga bisa merasa nada tinggi lebih sulit dicapai.
Pengaruhnya tidak berhenti pada tinggi-rendah suara. Jangkauan nada dapat menyempit, sementara suara terasa lebih cepat lelah saat dipakai. Perubahan ini dapat mengganggu aktivitas yang banyak mengandalkan suara, meski bahan yang dilaporkan tidak merinci jenis pekerjaan atau tingkat gangguannya.
Prasad mengingatkan bahwa suara yang lebih berat tidak otomatis menandakan suara lebih kuat. Pembengkakan dapat membuat suara turun nadanya, sekaligus terdengar kasar dan kurang lentur. Dengan kata lain, perubahan yang kadang dianggap sebagai ciri suara baru itu dapat berkaitan dengan gangguan pada jaringan, bukan peningkatan kualitas suara.
“Suara yang lebih berat tidak selalu berarti lebih sehat atau lebih kuat. Pembengkakan akibat merokok dapat menurunkan nada suara sekaligus membuatnya lebih kasar dan kurang fleksibel,” ujarnya.
Risiko bertambah ketika paparan terjadi berulang dalam jangka panjang. Struktur dan kinerja pita suara dapat berubah, sehingga keluhan tidak selalu pulih hanya dengan menunggu suara kembali normal. Salah satu kondisi yang disebut dalam laporan itu adalah edema Reinke, yaitu penumpukan cairan pada jaringan pita suara yang dapat membuat suara semakin berat dan serak.
Serak lama perlu diperiksa dokter THT
Perubahan suara yang menetap juga tidak boleh dianggap sepele karena merokok berkaitan dengan peningkatan risiko kanker laring. Kondisi pada laring dapat ikut memengaruhi suara. Karena itu, sulit membedakan penyebab keluhan hanya dari bunyi suara; pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apa yang terjadi pada jaringan.
Perokok dianjurkan berkonsultasi dengan dokter THT bila suara serak bertahan selama tiga hingga empat minggu, makin berat, atau berulang. Pemeriksaan lebih dini juga disarankan apabila perubahan suara muncul bersama kesulitan menelan, benjolan di leher, batuk berdarah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau gangguan pernapasan.
Tanda-tanda itu bukan berarti seseorang pasti mengalami penyakit tertentu. Namun, kemunculannya bersama perubahan suara menjadi alasan untuk tidak menunda konsultasi. Penilaian dokter dapat membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan iritasi, perubahan jaringan, atau kondisi lain pada laring.
Berhenti merokok mengurangi paparan iritan
Menghentikan kebiasaan merokok dapat mengurangi paparan zat yang mengiritasi pita suara dan memberi jaringan kesempatan untuk pulih. Namun, pemulihan suara tidak dijamin kembali persis seperti semula. Jika struktur jaringan telah berubah atau mengalami kerusakan, dampaknya mungkin menetap.
Karena itu, perubahan suara yang berlangsung lama sebaiknya tidak hanya ditutupi dengan mengurangi penggunaan suara atau menunggu keluhan hilang. Berhenti merokok merupakan langkah untuk menghentikan paparan berulang, sedangkan pemeriksaan THT diperlukan ketika serak menetap, memburuk, atau disertai gejala lain yang disebutkan.
