Emas Dunia Melemah, Dolar dan Yield AS Jadi Beban
Harga emas dunia turun untuk hari kedua akibat dolar AS yang menguat dan yield Treasury yang tinggi. Investor kini menanti keputusan The Fed serta data inflasi PCE.
Harga emas dunia melemah pada Senin, 19 Oktober 2026, tertekan penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Tekanan berlanjut pada perdagangan Selasa pagi, ketika investor menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan mencermati arah kebijakan bank sentral itu.
Merujuk data Refinitiv, emas ditutup turun 0,61 persen ke US$ 4.139,67 per troy ons. Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan menjadi dua hari berturut-turut. Pada Selasa pukul 06.47 WIB, harga kembali terkoreksi 0,13 persen ke US$ 4.134,33 per troy ons.
Dolar menguat, imbal hasil obligasi ikut naik
Indeks dolar AS naik tipis ke 101,98. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, penguatan mata uang itu membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Dalam kondisi seperti ini, permintaan emas dapat menghadapi tekanan.
Di saat yang sama, yield Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke 5,14 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat investor menimbang kembali pilihan investasi: emas tidak memberikan pendapatan bunga, sedangkan obligasi menawarkan imbal hasil.
Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai kekhawatiran bahwa bank sentral perlu kembali memperketat kebijakan untuk mengendalikan inflasi turut mendorong kenaikan yield. Situasi itu, kata dia, membuat sebagian investor mempertanyakan apakah obligasi saat ini lebih menarik dibandingkan emas.
“Dengan yield yang masih tinggi, investor emas mulai mempertanyakan apakah saat ini berinvestasi di pasar obligasi justru lebih menguntungkan,” kata Razaqzada, dikutip dari Refinitiv.
Emas selama ini dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya dapat berkurang ketika suku bunga tinggi, sebab investor menghadapi biaya peluang saat memilih aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Keputusan The Fed menjadi perhatian pasar
Pelaku pasar kini menunggu keputusan suku bunga The Fed pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang bank sentral mempertahankan suku bunga bulan ini diperkirakan mencapai 82,8 persen. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sebesar 90 persen.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Kenaikan itu menjadi yang pertama sepanjang tahun ini. Karena itu, investor tidak hanya memantau keputusan berikutnya, tetapi juga bahasa dan arahan kebijakan yang disampaikan bank sentral.
Razaqzada mengingatkan bahwa nada pernyataan The Fed dapat memengaruhi pergerakan emas dalam jangka pendek. Pesan yang lebih hawkish—atau memberi sinyal kebijakan moneter ketat—berpotensi menambah tekanan pada harga logam mulia.
Pasar juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pekan depan. Indikator tersebut menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menilai inflasi, sehingga hasilnya dapat ikut membentuk ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga.
Level teknikal dan pergerakan logam mulia lain
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen menempatkan resistensi utama emas di US$ 4.235 per troy ons. Sementara itu, level dukungan berada di bawah US$ 4.100 per troy ons. Kedua level itu menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai ruang penguatan maupun potensi tekanan lanjutan.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam juga dilaporkan turun Rp 10.000 menjadi Rp 2.564.000 per gram pada Selasa, 20 Oktober 2026. Harga pembelian kembali atau buyback turun dengan nilai yang sama, ke Rp 2.379.000 per gram. Harga tersebut berlaku untuk pengambilan di Butik Emas Logam Mulia Setiabudi One, Jakarta.
Pergerakan logam mulia lain tidak sepenuhnya searah. Harga perak ditutup naik 0,14 persen ke US$ 57,09 per troy ons pada Senin, setelah turun 0,8 persen pada Jumat sebelumnya. Namun, pada Selasa pukul 06.45 WIB, perak melemah 0,31 persen ke US$ 56,91 per troy ons.
Dalam waktu dekat, arah harga emas akan bergantung pada kombinasi kekuatan dolar, pergerakan yield, data inflasi, dan sinyal The Fed. Investor pun perlu mencermati perkembangan tersebut, terutama karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat menggeser daya tarik emas dan obligasi.
