ADMR Diproyeksi Bagi Dividen Rp127 per Saham pada 2027
Sucor Sekuritas memproyeksikan ADMR berpotensi membagikan dividen Rp127 per saham pada 2027. Proyeksi itu bergantung pada arus kas dan kinerja perusahaan.
Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dinilai masih menyimpan peluang pemulihan setelah mengalami tekanan jual. Sucor Sekuritas menilai koreksi harga saham emiten batu bara metalurgi dan aluminium yang terafiliasi dengan Boy Thohir itu berlebihan, sementara prospek fundamentalnya tetap ditopang oleh harga komoditas dan pengembangan bisnis aluminium.
Dalam proyeksi sekuritas tersebut, ADMR berpotensi membagikan dividen sekitar Rp106 per saham untuk tahun buku 2026. Nilainya diperkirakan meningkat menjadi Rp127 per saham pada 2027, dengan asumsi rasio pembayaran dividen sebesar 50 persen. Angka itu merupakan perkiraan, bukan dividen yang telah diputuskan perusahaan.
Prospek ADMR ditopang batu bara metalurgi dan smelter
Sucor menempatkan ADMR sebagai pemain di sektor batu bara metalurgi atau hard coking coal, sekaligus aluminium. Posisi kas perusahaan disebut sehat, dengan salah satu penopangnya adalah mulai beroperasinya fase pertama smelter PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).
Harga hard coking coal dalam bahan riset yang dikutip berada di level 261 dollar AS per ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi awal sebesar 228 dollar AS per ton. Selisih itu dinilai dapat memberi bantalan bagi proyeksi laba bersih ADMR, terutama ketika harga komoditas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan sahamnya.
Sucor memperkirakan laba bersih ADMR pada 2026 mencapai 428 juta dollar AS, atau tumbuh 78 persen. Proyeksi tersebut disusun dengan mempertimbangkan perkembangan bisnis perusahaan dan tingkat harga batu bara metalurgi. Namun, riset itu juga menguji kemungkinan gangguan operasional yang dapat memengaruhi penjualan.
Gangguan logistik masih menjadi faktor yang diperhitungkan
Salah satu skenario yang dihitung adalah penurunan penjualan sebesar 30 persen akibat gangguan debit air Sungai Barito, yang menjadi jalur logistik ADMR. Dalam skenario tersebut, laba bersih diperkirakan turun 29 persen menjadi 343 juta dollar AS.
Dampaknya terhadap valuasi, menurut perhitungan Sucor, lebih terbatas. Nilai perusahaan berdasarkan pendekatan jumlah bagian atau sum-of-the-parts (SOTP) diperkirakan turun 6 persen menjadi Rp2.025. Perhitungan itu menunjukkan bahwa gangguan penjualan tetap berpengaruh, tetapi tidak serta-merta menghapus seluruh proyeksi nilai yang disematkan kepada ADMR.
Risiko logistik tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dicermati bersama dengan pergerakan harga batu bara metalurgi dan aluminium. Sucor mencatat harga kedua komoditas itu telah turun 14 persen, seiring dengan tekanan yang ikut membayangi saham ADMR. Meski begitu, sekuritas tersebut menilai harga saham telah terkoreksi cukup dalam dibandingkan prospek yang mereka perkirakan.
Arus kas diproyeksi berbalik positif
Proyeksi arus kas menjadi dasar lain bagi perkiraan pembagian dividen. Sucor memperkirakan arus kas bersih ADMR berbalik positif menjadi 210 juta dollar AS pada 2026, dari posisi sebelumnya yang tercatat minus 615 juta dollar AS. Pada 2027, arus kas perusahaan diperkirakan meningkat menjadi 533 juta dollar AS.
Perbaikan itu diproyeksikan berlanjut hingga 2028, ketika ADMR diperkirakan memiliki kas bersih 354 juta dollar AS. Dengan asumsi dividend payout ratio sebesar 50 persen, Sucor menghitung potensi dividen Rp106 per saham untuk 2026 dan Rp127 per saham pada 2027. Besaran tersebut masih bergantung pada realisasi kinerja dan keputusan pembagian dividen perusahaan.
Atas dasar prospek tersebut, Sucor memberikan rekomendasi beli untuk ADMR dengan target harga Rp2.150 per saham. Target itu mencerminkan potensi kenaikan hingga 65 persen dari harga acuan dalam riset. Pada saat penilaian dilakukan, saham ADMR tercatat diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) 4,7 kali dan EV/EBITDA 2,8 kali.
Proyeksi dividen Rp127 per saham karena itu perlu dibaca sebagai skenario untuk 2027, bukan kepastian pembayaran. Perkembangan harga komoditas, kelancaran jalur logistik Sungai Barito, dan kinerja smelter KAI akan menjadi bagian penting dari perjalanan prospek ADMR ke depan.
