Defisit Transaksi Berjalan RI Membesar, Rupiah Tertekan
Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 3,34 persen PDB pada kuartal II-2026. BI menyebut impor energi sebagai penyebab utama, saat rupiah ditutup di Rp18.110 per dollar AS.
Defisit transaksi berjalan Indonesia melonjak menjadi 3,34 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut besarnya kebutuhan impor energi sebagai penyebab utama, sementara rupiah pada Senin, 26 Oktober 2026, ditutup di Rp18.110 per dollar AS, level penutupan terlemah dalam empat bulan.
Angka defisit itu jauh lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurut paparan Destry dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, kondisi tersebut juga membuat rupiah lebih mudah mendapat tekanan saat gejolak global terjadi. CNBC Indonesia melaporkan, nilai defisit transaksi berjalan pada kuartal II mencapai US$12,49 miliar.
Defisit naik tajam dalam satu kuartal
Pada kuartal I-2026, defisit tercatat sebesar 0,97 persen PDB atau US$3,58 miliar. Dalam tiga bulan berikutnya, rasio itu bertambah 2,37 poin persentase, sedangkan nilai defisit meningkat US$8,91 miliar. Perubahan tersebut menandai pelebaran yang besar dalam waktu singkat.
Destry menjelaskan persoalan transaksi berjalan itu dalam forum yang berlangsung di Jakarta pada Senin (26/10/2026). Ia mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan kondisi defisit yang melebar. Angka 3,34 persen PDB, menurut keterangan yang disampaikan, sudah melampaui ambang tiga persen.
Besarnya perubahan tersebut memberi gambaran bahwa kebutuhan pembayaran ke luar negeri menjadi perhatian. Namun, paparan Destry menempatkan impor energi sebagai penyebab utama yang sedang dihadapi Indonesia. Ia tidak merinci komponen lain yang membentuk angka defisit dalam kesempatan itu.
Karena itu, angka kuartal II tidak hanya menjadi catatan statistik. Besarnya defisit berjalan bersamaan dengan pelemahan kurs pada hari yang sama, meski pergerakan mata uang juga berlangsung dalam situasi pasar global yang bergejolak. Destry menilai kondisi eksternal semacam itu dapat membuat rupiah lebih mudah tertekan.
Impor energi menjadi perhatian BI
Kebutuhan impor energi yang masih tinggi disebut sebagai sumber tekanan utama pada transaksi berjalan. Untuk menekan ketergantungan tersebut, pemerintah telah berupaya memperluas bauran energi, termasuk melalui B50 dan E50. Destry menyatakan upaya itu diarahkan untuk mengurangi impor energi.
Ia menghubungkan kebutuhan impor tersebut dengan membesarnya defisit, yang kemudian berdampak pada nilai tukar. Dalam pandangannya, mengurangi kebutuhan dari luar negeri perlu berjalan bersama upaya mendorong ekspor. Destry menyebut promosi ekspor dan substitusi impor sebagai strategi kunci.
Pengembangan bauran energi menjadi salah satu bagian dari respons yang disebutkan dalam forum itu. Namun, keterangan yang tersedia tidak memuat angka mengenai besaran impor energi ataupun perkiraan dampak B50 dan E50 terhadap defisit. Dengan demikian, belum ada rincian kuantitatif tentang seberapa jauh langkah tersebut dapat mengurangi tekanan pada transaksi berjalan.
Pesan kebijakan yang disampaikan Destry berpusat pada pengurangan kebutuhan impor dan penguatan ekspor. Dua arah itu, menurutnya, berkaitan dengan upaya memperbaiki posisi transaksi berjalan sekaligus mengurangi tekanan terhadap mata uang. Ia tidak menyampaikan target waktu atau angka penurunan defisit dalam paparan tersebut.
Rupiah ditutup di Rp18.110 per dollar AS
Di pasar valuta, rupiah mengakhiri perdagangan Senin dengan pelemahan 0,39 persen ke Rp18.110 per dollar AS. Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan kurs penutupan itu lebih rendah dibandingkan posisi Jumat, 23 Oktober, yang berada di Rp18.040 per dollar AS. Level tersebut menjadi penutupan terlemah sejak awal Juni 2026.
Tekanan sudah terlihat sejak awal sesi. Rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke Rp18.050 per dollar AS, lalu sempat menyentuh Rp18.130. Menjelang penutupan, pelemahan berkurang 20 poin dari posisi terendah intraday itu. Kendati begitu, mata uang Garuda tetap mengakhiri hari 60 poin lebih lemah daripada saat pembukaan.
Indeks dollar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama, tercatat turun tipis 0,01 persen ke 101,802 pada pukul 15.00 WIB. Pergerakan indeks itu terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, tetapi data tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh faktor yang memengaruhi kurs.
BI menyoroti besarnya defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor energi, sementara Destry menempatkan promosi ekspor serta substitusi impor sebagai kunci penanganan. Langkah pemerintah terkait bauran energi menjadi bagian dari upaya yang telah disebutkan, meski dampaknya terhadap angka defisit belum dirinci.
