Menteri Perminyakan Iran Mundur saat Krisis Memburuk
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri saat negara itu menghadapi inflasi tinggi, pelemahan rial, dan penurunan pendapatan minyak. Parlemen juga menyelidiki dugaan tunggakan hampir US$2 miliar kepada perusahaan minyak negara.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri ketika negara itu menghadapi krisis ekonomi yang kian dalam. Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan telah menerima pengunduran diri tersebut. Paknejad menyebut alasan pribadi sebagai penyebab keputusannya, di tengah pendapatan minyak yang merosot, inflasi tinggi, dan pelemahan tajam rial.
Pengunduran diri itu dilaporkan pada Selasa (6/10/2026), beberapa hari setelah muncul tuduhan bahwa lembaga perantara penjualan minyak Iran ke luar negeri menunggak hampir US$2 miliar kepada perusahaan minyak negara, National Iranian Oil Company (NIOC). Parlemen Iran telah memulai penyelidikan atas dugaan tersebut.
Rial melemah, inflasi pangan melonjak
Tekanan ekonomi terlihat dari nilai mata uang Iran yang terus tergerus. Dalam sebulan terakhir, rial melemah lebih dari 10 persen. Dolar diperdagangkan sekitar 269.000 toman atau 2,69 juta rial per US$1, dan tercatat menguat 12 persen sejak 9 September.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang lebih langsung bagi warga. Inflasi pangan dilaporkan mencapai 130 persen, sementara inflasi secara keseluruhan berada di angka 85 persen. Angka-angka itu muncul bersamaan dengan kontraksi ekonomi sekitar 10 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.
Pendapatan minyak yang turun turut membatasi pasokan devisa. Ekspor, yang menjadi sumber utama pemasukan pemerintah, terhambat oleh blokade angkatan laut Amerika Serikat. Kondisi tersebut mempersempit ruang pemerintah untuk menghadapi pelemahan ekonomi dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Dugaan tunggakan perusahaan perantara diselidiki
Sorotan terhadap sektor minyak tidak hanya menyangkut penurunan pendapatan. Surat kabar Farhikhtegan melaporkan lembaga perantara yang dibentuk pada masa jabatan Paknejad diduga memiliki utang hampir US$2 miliar kepada NIOC. Dugaan itu menambah perhatian terhadap pengelolaan hasil ekspor minyak Iran.
Laporan yang sama menyebut tiga individu yang memperoleh kontrak minyak masing-masing berutang ratusan juta dolar. Setelah dugaan tunggakan tersebut mencuat, parlemen Iran memulai penyelidikan. Namun, bahan laporan yang tersedia tidak menjelaskan hasil pemeriksaan maupun tanggapan dari pihak-pihak yang disebut dalam tuduhan itu.
Pengunduran diri Paknejad terjadi dalam suasana meningkatnya tekanan terhadap sektor energi dan perekonomian. Meski demikian, alasan resmi yang disampaikan untuk kepergiannya adalah alasan pribadi. Belum ada keterangan dalam laporan tersebut yang menghubungkan langsung keputusan itu dengan penyelidikan atau kondisi ekonomi.
Dampak krisis dirasakan pekerja dan keluarga
Kenaikan biaya hidup juga memengaruhi pekerja di berbagai bidang. Mohammad Sharifi Moghaddam, Sekretaris Jenderal organisasi Nurses’ House, mengatakan para perawat telah menggunakan berbagai cara untuk memperjuangkan tuntutan mereka, termasuk melalui langkah hukum, profesional, dan aksi protes.
“Para perawat telah menempuh segala cara yang memungkinkan, baik secara logis, hukum, maupun profesional, serta melalui berbagai bentuk protes atau langkah kritis untuk memperjuangkan tuntutan mereka”.
Menurut Sharifi Moghaddam, sebagian perawat memilih tidak bekerja karena pendapatan yang diterima dinilai tidak sebanding dengan biaya hidup. Ia menyebut gaji sekitar 25 juta toman atau 250 juta rial membuat para perawat merasa lebih hemat jika tetap di rumah daripada bekerja.
Laporan mengenai pengunduran diri massal juga muncul dari kalangan guru dan pekerja profesional lain. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya menjadi persoalan angka inflasi atau nilai tukar, tetapi turut memengaruhi keputusan masyarakat dalam menjalani pekerjaan sehari-hari.
Pemerintah berupaya menahan tekanan harga
Pemerintah Iran berusaha meredam dampak krisis dengan membekukan harga 12 kebutuhan pokok selama enam bulan. Barang yang masuk dalam kebijakan itu antara lain beras, gula, minyak, dan deterjen. Pemerintah juga mempertimbangkan kenaikan upah bagi pekerja sektor publik.
Langkah tersebut ditempuh ketika ekspor minyak masih menghadapi hambatan dan sejumlah kapal diserang di sekitar Selat Hormuz. Ketidakpastian itu menambah tantangan bagi pemerintah dalam menjaga pemasukan dan menahan penurunan standar hidup masyarakat.
Ke depan, kemampuan Iran memulihkan kepercayaan publik akan bergantung pada perkembangan ekonomi, pendapatan minyak, serta penanganan dugaan tunggakan kepada NIOC. Sementara itu, pelemahan rial dan mahalnya kebutuhan pokok tetap menjadi tekanan nyata bagi warga maupun pekerja di berbagai sektor.
