AI Wearables dan Risiko Privasi Percakapan
Perangkat AI yang terus mendengarkan menawarkan kemudahan, tetapi memunculkan pertanyaan tentang persetujuan, keamanan data, dan tanggung jawab hukum.
Perangkat AI yang dapat merekam dan mengolah percakapan tanpa perlu diaktifkan dengan kata kunci memunculkan kekhawatiran baru soal privasi. Fitur yang ditawarkan—mulai dari transkripsi rapat hingga pengingat dan rekomendasi—berpotensi menangkap suara bukan hanya dari pemilik perangkat, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Perangkat seperti Bee Frontier dan Bee Eclipse milik Amazon, fitur Siri pada Apple Watch Series 12, serta kacamata pintar Meta disebut memiliki kemampuan mencatat percakapan pengguna. Berbeda dengan speaker pintar generasi sebelumnya yang menunggu kata kunci tertentu, perangkat baru ini dapat terus mendengarkan tanpa pemicu khusus.
Kemampuan itu membuat perangkat AI terasa praktis sekaligus menimbulkan pertanyaan mendasar: siapa yang memberikan persetujuan ketika percakapan direkam, dan sejauh mana orang di sekitar pengguna mengetahui bahwa mereka mungkin ikut tertangkap?
Perangkat AI terus mendengarkan, persetujuan dipertanyakan
Karen Panetta, dekan pendidikan pascasarjana di Sekolah Teknik Tufts sekaligus anggota Institute of Electrical and Electronics Engineers, menilai persetujuan pemilik perangkat tidak otomatis berlaku bagi orang lain. Seseorang mungkin mengizinkan dirinya direkam, tetapi belum tentu orang yang berada di dekatnya memberikan izin serupa.
“Jika saya memberikan izin untuk direkam, atau semua yang saya lihat direkam, tidak berarti semua orang di sekitar Anda telah memberikan persetujuan yang sama,” kata Panetta.
Persoalan ini semakin rumit karena perangkat dikenakan atau dibawa langsung oleh pengguna. Orang lain mungkin tidak mengetahui bahwa sebuah jam tangan atau kacamata pintar sedang mengolah suara. Dalam situasi seperti itu, batas antara penggunaan pribadi dan perekaman komunikasi orang lain menjadi sulit dikenali.
Michael Stokes, mantan petugas CIA yang kini menjadi wakil presiden senior bidang teknologi baru di Veilant, menyoroti kemungkinan seseorang diawasi tanpa memiliki perangkat tersebut. Menurut dia, pengamat pasif—orang yang berada di sekitar pemilik perangkat—merupakan salah satu kekhawatiran utama.
Amazon dan Apple menyatakan data diproses aman
Amazon dan Apple disebut menyadari kekhawatiran privasi tersebut. Kedua perusahaan menyampaikan bahwa perangkat mereka memiliki perlindungan dan tidak menyimpan audio dari lingkungan sekitar. Amazon, misalnya, mengatakan percakapan diproses dalam lingkungan aman yang tidak dapat diakses siapa pun, termasuk perusahaan itu sendiri.
“Percakapan diproses di lingkungan yang aman tidak seorang pun, termasuk Amazon, bisa mengakses data Anda,” kata Amazon.
Pernyataan itu menjelaskan posisi perusahaan mengenai pengelolaan data, tetapi belum menghapus pertanyaan tentang persetujuan orang-orang yang suaranya mungkin tertangkap. Kekhawatiran tersebut tidak hanya menyangkut apakah rekaman disimpan atau dapat diakses, melainkan juga apakah proses menangkap dan mengolah komunikasi telah mendapat izin dari pihak yang terlibat.
Di sinilah perbedaan perangkat AI terbaru dengan speaker pintar lama menjadi penting. Ketika perangkat tidak harus menunggu kata kunci untuk aktif, orang di sekitarnya lebih sulit mengetahui kapan suara mereka sedang diproses. Karena itu, persoalan privasi tidak berhenti pada keamanan penyimpanan data.
Aturan penyadapan bisa membebani pemilik perangkat
Penggunaan perangkat pintar AI juga berhadapan dengan aturan mengenai penyadapan. Di Massachusetts, perangkat penyadap didefinisikan sebagai peralatan yang dapat mengirim, menerima, memperkuat, atau merekam komunikasi. Pengertian komunikasi dalam aturan itu dapat mencakup substansi maupun maknanya.
Namun, penerapan hukum tidak selalu mengarah kepada pembuat perangkat. Sejumlah aturan di beberapa wilayah dapat menempatkan tanggung jawab pada pemilik perangkat, bukan perusahaan yang merancang teknologi tersebut. Perbedaan ketentuan antardaerah membuat risiko hukum bagi pengguna berpotensi bergantung pada lokasi dan cara perangkat digunakan.
Daniel Pi, profesor madya di Fakultas Hukum Franklin Pierce Universitas New Hampshire, mengatakan fitur intelijen audio terbaru pada Watch termasuk penyadapan menurut aturan wilayah setempat. Aturan New Hampshire, menurut Pi, tidak hanya mencakup perekaman, tetapi juga memperoleh suara atau isi komunikasi dengan cara lain.
Privasi orang di sekitar pengguna ikut dipertaruhkan
Perdebatan ini menunjukkan bahwa perangkat AI tidak hanya menyentuh hubungan antara pengguna dan perusahaan teknologi. Ada pihak ketiga yang mungkin tidak mengetahui keberadaan perangkat atau tidak pernah menyetujui percakapan mereka diproses. Dalam pandangan Stokes, kemungkinan seseorang terpantau tanpa memiliki teknologi itu sendiri menjadi persoalan yang patut diperhatikan.
Seiring perangkat yang dapat mendengarkan dan memberi layanan secara langsung semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari, perusahaan perlu menjelaskan cara kerja fitur audio dan perlindungan datanya. Pengguna pun perlu memperhatikan aturan yang berlaku di wilayah masing-masing serta mempertimbangkan keberadaan orang lain sebelum mengaktifkan fitur yang menangkap percakapan.
Praktisnya fungsi AI tidak menghilangkan kebutuhan akan persetujuan yang jelas. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi yang dirancang untuk membantu pengguna tidak membuat orang-orang di sekitarnya kehilangan kendali atas privasi mereka.
