Arema FC Akhiri Kerja Sama dengan Marcos Santos
Arema FC mengakhiri kerja sama dengan Marcos Santos setelah lima laga tanpa kemenangan. Andre Caldas ditunjuk sebagai pelatih interim menjelang laga kontra Dewa United.
Arema FC resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Marcos Santos pada Jumat pagi, 23 Oktober, setelah tim melewati lima pertandingan tanpa kemenangan di BRI Super League 2026/2027. Kekalahan 1-5 dari Persija Jakarta di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, menjadi pemicu evaluasi yang berujung pada pergantian pelatih.
Keputusan tersebut diumumkan manajemen klub menjelang laga kandang melawan Dewa United FC di Stadion Kanjuruhan, Minggu, 25 Oktober. Untuk sementara, Arema menunjuk Andre Caldas sebagai pelatih interim. Di saat yang sama, manajemen mulai mencari sosok yang akan menangani tim secara definitif.
General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi mengatakan keputusan melepas Marcos diambil setelah mempertimbangkan kondisi tim dari berbagai sisi. Menurut dia, pergantian pelatih diharapkan memberi penyegaran dan membuka kesempatan bagi skuad Singo Edan untuk memulai momentum baru.
Lima laga tanpa kemenangan jadi dasar evaluasi
Rentetan hasil tanpa kemenangan menjadi pertimbangan utama manajemen. Kekalahan telak dari Persija pada Rabu, 21 Oktober, disebut sebagai titik puncak evaluasi. Namun, Yusrinal menegaskan keputusan itu tidak dibuat secara tergesa-gesa, melainkan setelah menimbang aspek teknis, nonteknis, dan situasi internal tim.
Marcos merupakan pelatih asal Brasil yang menjalani musim keduanya bersama Arema. Pengalaman tersebut membuatnya dinilai sudah mengenal karakter sepak bola Indonesia. Meski begitu, manajemen menganggap lima pertandingan tanpa kemenangan sebagai tanda bahwa tim membutuhkan ruang perubahan.
“Keputusan ini tentu tidak mudah, apalagi ini merupakan musim kedua bagi Coach Marcos Santos yang dinilai sangat mengenal karakter sepak bola Indonesia. Namun, lima laga tanpa kemenangan menjadi indikator penting bahwa tim butuh momentum dan ruang refreshment baru,” ujar Yusrinal.
Yusrinal, yang akrab disapa Inal, menyebut keputusan mengakhiri kontrak diambil secara profesional demi kepentingan bersama. Ia juga mengatakan hak administratif dan penyelesaian kontrak Marcos akan dirampungkan dengan baik dan kekeluargaan.
Manajemen turut mempertimbangkan pengalaman klub sebelumnya dalam menentukan figur pelatih. Yusrinal mengungkapkan, ada kalanya sosok yang terlihat ideal di mata publik tidak selalu menjadi pihak yang menjalankan seluruh program latihan dan taktik di balik layar. Ia menyebut pengalaman ketika jajaran asisten pelatih, termasuk almarhum Kuncoro, memegang peran dalam perencanaan hingga pelaksanaan program tim.
Andre Caldas pimpin Arema FC untuk sementara
Jadwal kompetisi yang padat membuat Arema bergerak cepat menunjuk pengganti sementara. Andre Caldas dipilih untuk memimpin tim dalam masa transisi, termasuk menghadapi Dewa United di Kanjuruhan. Manajemen menilai ia memiliki bekal kualifikasi dan pemahaman yang cukup untuk mengambil alih tugas tersebut.
Andre mengantongi lisensi A Pro. Ia juga telah berinteraksi intensif dengan para pemain dan pernah memimpin tim ketika pelatih kepala berhalangan hadir. Kedekatan dengan skuad dan dinamika internal itu diharapkan membantu proses penyesuaian berlangsung cepat.
“Secara kualifikasi Coach Andre sangat memenuhi syarat dengan lisensi A Pro. Yang paling penting, ia sudah sangat intens berinteraksi dan sempat memimpin tim ketika pelatih kepala absen,” kata Yusrinal.
Penunjukan Andre masih bersifat sementara. Manajemen menyatakan tengah mencari dan memproses calon pelatih kepala definitif yang dinilai mampu membawa Arema kembali bersaing di papan atas. Belum ada nama kandidat yang diumumkan dalam keterangan tersebut.
Transisi ini menempatkan laga melawan Dewa United sebagai ujian awal bagi tim di bawah arahan Andre. Dengan waktu persiapan yang terbatas, tantangan terdekat Arema adalah menjaga fokus pemain sekaligus merespons hasil kurang memuaskan dalam lima pertandingan sebelumnya.
Manajemen minta dukungan Aremania
Di tengah pergantian pelatih, manajemen menyampaikan apresiasi kepada Marcos atas dedikasinya selama menangani Arema. Yusrinal juga meminta maaf kepada Aremania, Aremanita, dan masyarakat Malang Raya karena pencapaian tim belum sesuai harapan.
Ia berharap perubahan ini menjadi titik awal pembenahan, bukan sekadar pergantian di kursi pelatih. Seberapa cepat Arema menemukan kembali konsistensi akan bergantung pada proses transisi, keputusan manajemen dalam memilih pelatih definitif, serta respons tim di pertandingan berikutnya.
Untuk saat ini, perhatian tertuju pada laga kandang melawan Dewa United dan kepemimpinan Andre Caldas. Hasil pertandingan itu dapat menjadi salah satu tolok ukur awal bagi Arema dalam menata ulang langkahnya di tengah kompetisi yang berjalan padat.
