Kasus Negreira, Bara yang Membakar El Clasico
Pembayaran Barcelona kepada perusahaan terkait mantan petinggi komite wasit Spanyol memicu pertanyaan soal konflik kepentingan dan memperuncing rivalitas El Clasico.
Kasus Negreira kembali menjadi bara dalam rivalitas Barcelona dan Real Madrid. Persoalan pembayaran Barcelona kepada perusahaan yang terkait dengan mantan petinggi komite wasit Spanyol itu bukan hanya memicu pertanyaan soal konflik kepentingan, tetapi juga memperuncing saling curiga di antara dua klub terbesar di negara tersebut.
Di tengah kontroversi itu, perdebatan berjalan di dua jalur. Barcelona menyatakan pembayaran dilakukan untuk memperoleh laporan teknis, termasuk analisis perwasitan. Sementara itu, sejumlah fakta yang terungkap dalam penyelidikan membuat hubungan tersebut dipandang sebagai persoalan serius. Namun, bahan yang tersedia tidak menyebut adanya putusan yang membuktikan Barcelona menyuap wasit atau mengatur pertandingan.
Awal terungkapnya pembayaran Barcelona
Kasus ini mencuat pada 15 Februari 2023. Program radio Cadena SER, “Què t’hi jugues”, melaporkan dokumen terkait penyelidikan otoritas pajak Spanyol atas laporan perusahaan DASNIL 95. Sebagian saham perusahaan itu dimiliki Jose Maria Enriquez Negreira.
Dokumen tersebut mencatat pembayaran dari Barcelona kepada DASNIL 95 pada rentang 2016 hingga 2018 dengan nilai sekitar 1,4 juta euro. Pada periode itu, Negreira menjabat wakil presiden Komite Teknis Wasit (CTA) di Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF). Posisi tersebut menjadi salah satu alasan utama hubungan bisnis itu memicu perhatian.
Dalam keterangan kepada otoritas pajak yang dikutip sejumlah media, Negreira disebut mengatakan pembayaran diberikan agar Barcelona tidak dirugikan oleh keputusan wasit—atau, dalam istilah yang ia gunakan, agar semuanya netral. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari laporan yang beredar, bukan bukti bahwa pertandingan tertentu telah diatur.
Mantan presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu mengatakan pembayaran kepada perusahaan itu sudah berlangsung setidaknya sejak 2003. Menurutnya, pembayaran berhenti pada Juni 2018, bertepatan dengan kepergian Negreira dari CTA, sebagai bagian dari langkah penghematan klub.
Penjelasan Barcelona dan persoalan konflik kepentingan
Barcelona membenarkan pernah menggunakan jasa konsultan eksternal. Klub menyatakan penyedia layanan itu membuat laporan video mengenai pemain muda dari klub-klub Spanyol lain, sekaligus laporan teknis tentang perwasitan profesional untuk membantu staf pelatih tim utama dan tim kedua.
Barcelona menyebut jasa tersebut sebagai praktik yang umum di sepakbola profesional. Klub juga mengatakan tanggung jawab atas layanan serupa kini berada di tangan seorang profesional di departemen sepakbola. Dalam pernyataannya, Barcelona menyayangkan kabar itu muncul ketika tim sedang menunjukkan performa terbaik dan mengancam akan menempuh jalur hukum terhadap pihak yang dinilai merusak reputasi klub.
Bartomeu menyebut putra Negreira, Javier Enriquez Romero, sebagai penyusun laporan perwasitan tersebut. Presiden Barcelona Joan Laporta pun membantah dugaan suap. “Keliru dan tidak masuk akal jika mengira kami menyuap wasit mana pun,” kata Laporta.
Penjelasan itu tidak menghapus persoalan yang disorot publik: pembayaran dilakukan kepada perusahaan yang terkait dengan seseorang yang saat itu menduduki posisi penting di lingkungan perwasitan. Presiden La Liga Javier Tebas menilai aturan kepatuhan untuk mengawasi konflik kepentingan, baik di Barcelona maupun di komite wasit, tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mengapa kasus Negreira memanaskan El Clasico?
Tebas juga membedakan kemungkinan sanksi olahraga dari penyelidikan pidana. Menurutnya, sanksi disipliner olahraga tidak dapat dijatuhkan karena perkara tersebut telah melewati batas waktu tiga tahun. Namun, ia mengatakan kejaksaan tengah menyelidiki peristiwa yang terjadi dan kemungkinan adanya tindak pidana korupsi antarindividu terkait pengaturan pertandingan.
Pernyataan itu menempatkan kasus Negreira dalam wilayah yang belum sederhana: ada pembayaran dan hubungan yang menimbulkan pertanyaan, tetapi penilaian hukum tidak dapat disamakan begitu saja dengan tuduhan bahwa hasil pertandingan telah dipengaruhi. Karena itu, penting membedakan fakta transaksi, penjelasan klub, serta dugaan yang masih menjadi bahan penyelidikan.
Dalam rivalitas Barcelona dan Real Madrid, isu perwasitan mudah berubah menjadi bahan bakar perseteruan. El Clasico memang sejak lama lebih dari pertandingan; ia juga menjadi benturan identitas dan kebanggaan. Ketika kontroversi menyentuh kepercayaan terhadap wasit, setiap kubu dapat membaca fakta yang sama dari sudut pandang berbeda.
Di sinilah kasus Negreira terus membayangi sepakbola Spanyol. Bagi Barcelona, tuduhan suap dibantah dan layanan yang dibayar dijelaskan sebagai pekerjaan konsultasi. Bagi pihak yang mempertanyakan hubungan tersebut, kedudukan Negreira di CTA membuat pembayaran itu tetap sulit dipandang sebagai urusan bisnis biasa.
Pada akhirnya, perkembangan penyelidikan dan kejelasan proses hukum akan menentukan bagaimana kasus ini dinilai. Sampai ada kesimpulan yang tegas, perdebatan sebaiknya bertumpu pada fakta yang dapat diverifikasi—bukan mengubah kecurigaan menjadi vonis. Di tengah panasnya El Clasico, kehati-hatian itu sama pentingnya dengan tuntutan agar setiap konflik kepentingan dijelaskan secara terbuka.
