Philippe Diallo Minta Polemik Kylian Mbappe Diakhiri
Philippe Diallo meminta kontroversi Kylian Mbappe di China dihentikan setelah sang pemain meminta maaf. Polemik itu turut berdampak pada kerja sama merek dan memicu ancaman boikot siaran sepak bola Spanyol.
Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Philippe Diallo, meminta kontroversi Kylian Mbappe di China tidak berlarut-larut. Ia menilai penyerang Real Madrid itu telah menerangkan konteks ucapannya dan menyampaikan permintaan maaf, sementara dampak polemik mulai terasa pada kerja sama komersial serta siaran sepak bola Spanyol.
Mbappe menjadi sasaran kecaman setelah potongan video wawancaranya beredar di internet. Dalam percakapan tersebut, ia mengaku terhibur oleh meme yang menempelkan wajahnya pada tubuh seseorang yang ia sebut mirip diktator China. Tokoh yang dimaksud adalah Mao Zedong, pendiri Republik Rakyat China.
Ucapan itu dianggap merendahkan Mao oleh sebagian publik di China. Perdebatan pun meluas dari komentar sang pemain ke klubnya dan kompetisi yang menaunginya. Dalam pemberitaan detikSport, Diallo berharap persoalan tersebut berhenti setelah Mbappe meminta maaf.
Diallo ingin Mbappe kembali fokus
Berbicara kepada surat kabar Prancis, Ouest-France, Diallo mengatakan Mbappe sudah menjelaskan latar peristiwa yang memicu kontroversi. Presiden FFF itu berharap penjelasan tersebut cukup untuk meredakan perdebatan.
“Ini adalah kontroversi yang, pada akhirnya, saya harap tidak akan berlarut-larut karena Kylian telah menjelaskan dengan sangat baik konteks di mana insiden tersebut terjadi. Dia telah meminta maaf,” kata Philippe Diallo kepada Ouest-France.
Diallo juga meminta agar pembahasan tidak terus diperpanjang. Menurut dia, Mbappe perlu mendapat ruang untuk menjalani musim bersama Real Madrid tanpa polemik tersebut terus membayangi.
“Saya yakin kita sebaiknya menghentikan pembahasan ini di sini agar dia dapat melanjutkan musimnya dalam kondisi terbaik,” ujarnya.
Mbappe, yang berusia 27 tahun menurut laporan detikSport, telah menyampaikan penyesalan dan berjanji tidak mengulangi ucapannya. Permintaan maaf itu belum serta-merta menghentikan reaksi di China. Sejumlah merek asal negara tersebut dikabarkan memutus kerja sama dengan pemain Prancis itu.
Dampak merembet ke Real Madrid dan LaLiga
Tekanan tidak hanya diarahkan kepada Mbappe. Siaran pertandingan LaLiga dan Real Madrid juga terancam diboikot sebagian penonton di China pada akhir pekan yang disebut dalam pemberitaan. Ancaman itu membuat persoalan yang semula berawal dari komentar seorang pemain turut menyentuh kepentingan klub dan kompetisi.
Real Madrid dan LaLiga kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada China melalui pernyataan resmi. Laporan detikSport menyebut respons publik China masih dingin. Belum ada keterangan dalam laporan tersebut bahwa ancaman pemutusan siaran atau boikot telah benar-benar menjadi keputusan menyeluruh.
Situasi itu memperlihatkan besarnya konsekuensi yang dapat muncul ketika figur sepak bola global terseret dalam isu sensitif di pasar internasional. Namun, bahan pemberitaan yang tersedia tidak merinci nama merek yang memutus kontrak, nilai kerja sama, ataupun besaran kerugian yang mungkin ditanggung pihak-pihak terkait. Karena itu, dampak finansialnya belum dapat dipastikan dari informasi yang dilaporkan.
Pembelaan politikus Prancis menambah perdebatan
Di Prancis, sikap terhadap ucapan Mbappe tidak sepenuhnya seragam. Marine Tondelier, ketua Partai Ekologi Prancis yang juga disebut sebagai calon presiden pada pemilu 2027, membela pernyataan pemain tersebut. Ia menilai penyebutan Mao sebagai diktator sesuai dengan fakta sejarah.
Dalam unggahan di media sosial X, Tondelier menyebut pemerintahan Mao bersifat totaliter dan mengaitkannya dengan puluhan juta kematian. Ia juga menyampaikan bahwa sikap mengalah terhadap tekanan ekonomi dari China dapat dibaca sebagai kelemahan. Pernyataan itu berpotensi memperpanjang perdebatan, meski Diallo meminta isu tersebut dihentikan.
Menurut laporan detikcom, kontroversi bermula dari potongan video wawancara Mbappe yang beredar secara daring. Rincian pembicaraan dalam wawancara itu tidak seluruhnya dijelaskan dalam laporan, sehingga konteks yang beredar di media sosial bertumpu pada bagian yang viral. Mbappe kemudian meminta maaf atas komentarnya yang dinilai kurang bijaksana.
Untuk saat ini, Diallo memilih mendorong agar perhatian kembali tertuju pada aktivitas sepak bola Mbappe. Adapun kelanjutan dampak komersial dan respons penonton di China masih bergantung pada perkembangan setelah permintaan maaf dari sang pemain, Real Madrid, dan LaLiga.
