Salesforce Hadirkan Agentforce untuk Bisnis Indonesia
Salesforce membawa Agentforce ke Indonesia dengan fitur pembatasan keputusan, pemantauan kinerja, dan integrasi bersama sistem yang telah digunakan perusahaan. UMKM juga menjadi sasaran melalui agen siap pakai dan materi belajar mandiri.
Salesforce membawa platform agen AI Agentforce ke Indonesia dengan menawarkan cara bagi perusahaan untuk mengotomatisasi pekerjaan tanpa melepas kendali atas keputusan bisnis. Sistem ini dirancang agar kemampuan model AI bekerja bersama aturan yang ditetapkan perusahaan, mulai dari ketentuan diskon hingga proses persetujuan pinjaman.
Seperti dilaporkan Technologue ID, strategi Salesforce di pasar Indonesia juga mencakup AIforce. Perusahaan menggabungkan keluaran model yang bersifat probabilistik dengan aturan bisnis deterministik. Dengan pendekatan itu, agen dapat menjalankan tugas, tetapi tindakannya dibatasi oleh kebijakan operasional yang sudah ditentukan.
Gavin Barfield, VP Solution Engineering Salesforce ASEAN, menjelaskan bahwa perusahaan bisa mengatur batas kerja agen melalui Agentforce Builder. Kebutuhan itu penting bagi penggunaan AI di lingkungan korporasi, ketika keputusan otomatis harus tetap sesuai kewenangan dan prosedur internal. Tanpa pengaturan tersebut, perusahaan berisiko membiarkan agen mengambil tindakan di luar batas yang mereka tetapkan.
Aturan perusahaan menjadi batas kerja agen
Agentforce dirancang untuk mengeksekusi alur kerja dengan memanfaatkan data perusahaan. Dalam arsitektur yang dijelaskan Salesforce, AIforce berada pada lapisan interaksi pengguna, sementara Customer 360 dan Data 360 ikut mendukung pengolahan informasi dan pelaksanaan tugas. Rangkaian ini memungkinkan data pelanggan digunakan untuk menjalankan pekerjaan secara otomatis.
Namun, otomatisasi tidak berarti semua keputusan diserahkan begitu saja kepada model AI. Batas deterministik memberi perusahaan cara untuk menjaga agar hasil kerja agen tetap sejalan dengan aturan bisnis. Contohnya, batas pemberian potongan harga dapat ditentukan lebih dulu, begitu pula persyaratan yang harus dipenuhi sebelum permohonan pinjaman diteruskan.
Kontrol terhadap agen juga disediakan lewat Agentic Control Plane. Fitur ini memungkinkan perusahaan memantau kinerja agen, meninjau catatan interaksi, melihat penggunaan token, serta membandingkan tindakan agen dengan sasaran bisnis. Informasi tersebut dapat dipakai tim TI untuk mengevaluasi perilaku sistem dan melakukan penyesuaian.
Salesforce turut menyebut lapisan semantik sebagai bagian dari pendekatan tersebut. Lapisan ini membantu agen memahami konteks data dan istilah yang khas di bidang usaha tertentu. Dengan pemahaman konteks, perusahaan dapat mengarahkan agen agar tidak hanya memproses kata-kata, tetapi juga membaca makna yang relevan bagi pekerjaan.
Integrasi tanpa mengganti sistem lama
Bagi perusahaan yang telah memiliki perangkat otomasi dan alur kerja sendiri, Salesforce menyatakan Agentforce dapat digunakan tanpa harus mengganti sistem yang sudah berjalan. Klaim ini menyasar salah satu pertimbangan dalam adopsi teknologi baru, yakni kebutuhan untuk mengubah infrastruktur yang telah digunakan sehari-hari.
Integrasi juga dapat berlangsung melalui protokol Agent-to-Agent. Mekanisme ini memungkinkan agen dari platform berbeda berkomunikasi untuk menangani pekerjaan yang berkaitan, termasuk antara sistem layanan TI dan pengelolaan sumber daya manusia. Dengan demikian, satu tugas yang melibatkan lebih dari satu fungsi perusahaan dapat dikerjakan melalui kolaborasi agen.
Di lingkungan kerja, Agentforce IT Service dapat dipakai untuk menerima laporan gangguan teknologi informasi melalui percakapan. Layanan tersebut disebut tersedia sepanjang waktu, sehingga karyawan dapat menyampaikan kendala kapan saja. Salesforce menyebut otomatisasi layanan internal berpotensi membantu menekan biaya operasional dan mempercepat penanganan masalah.
Perusahaan juga menyiapkan dukungan Bahasa Indonesia untuk Agentforce. Kemampuan bahasa lokal ini ditujukan agar agen lebih memahami percakapan pengguna di Indonesia. Bagi bisnis yang berinteraksi dengan pelanggan dalam Bahasa Indonesia, pemahaman bahasa menjadi salah satu unsur yang menentukan kegunaan agen dalam layanan.
UMKM ikut menjadi sasaran adopsi
Salesforce menyatakan akses Agentforce tidak hanya ditujukan bagi perusahaan besar. Agen siap pakai dan materi pembelajaran mandiri disediakan untuk membantu pelaku usaha kecil yang memiliki anggaran teknologi terbatas. Namun, penerapan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan aturan masing-masing usaha.
Contoh pemanfaatan ekosistem Salesforce di Indonesia datang dari perusahaan ritel Erajaya. Technologue ID melaporkan Erajaya menggunakan Salesforce untuk mendukung layanan pelanggan yang dipersonalisasi bagi 18 juta pengguna. Angka tersebut memberi gambaran skala basis pengguna yang dilayani, meski tidak merinci jenis agen atau alur kerja Agentforce yang digunakan dalam penerapan itu.
Untuk bisnis yang ingin memulai, kombinasi batas operasional, pemantauan, dan integrasi memberi ruang penerapan bertahap. Perusahaan dapat menentukan lebih dulu tugas yang akan diotomatisasi, lalu mengawasi kinerja agen sebelum memperluas pemakaiannya. Salesforce juga menekankan perlunya kesiapan infrastruktur data agar agen dapat dimanfaatkan secara optimal.
