Usai Transplantasi Hati dan Ginjal, Keeleigh Hamil
Keeleigh John, 28 tahun, hamil anak pertama setelah menjalani transplantasi hati dan ginjal saat berusia 12 tahun. Kehamilan setelah transplantasi perlu pemantauan ketat.
Keeleigh John, perempuan asal Somerset, Inggris, tengah mengandung anak pertamanya setelah menjalani transplantasi hati dan ginjal saat berusia 12 tahun. Pada usia 28 tahun, ia menerima kabar kehamilan yang dulu terasa sulit dibayangkan, setelah keluarganya pernah diberi tahu bahwa ia mungkin tak akan bertahan hidup hingga remaja dan peluangnya memiliki anak sangat kecil.
Dalam wawancara dengan BBC pada September 2026, Keeleigh menyebut usia kehamilannya telah mencapai 14 minggu. Pemeriksaan dokter menunjukkan bayi dalam kondisi sehat, sementara Keeleigh juga merasa baik-baik saja.
“Sekarang sudah 14 minggu. Bayi terlihat sehat dan saya juga baik-baik saja,” kata Keeleigh, dikutip dari PEOPLE.
Kabar itu datang ketika ia sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Keeleigh diketahui hamil setelah mengalami empat kali sepsis pada tahun ini. Kehamilan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan kesehatannya yang sejak kecil diwarnai kondisi serius.
Diagnosis sejak bayi dan transplantasi di usia 12 tahun
Masalah kesehatan Keeleigh bermula saat usianya baru 14 bulan. Ia didiagnosis mengalami congenital hepatic fibrosis dan autosomal recessive polycystic kidney disease (ARPKD), dua kondisi yang memengaruhi hati dan ginjal.
ARPKD merupakan kelainan genetik yang menyebabkan banyak kista terbentuk di ginjal. Kista tersebut dapat mengganggu fungsi organ dan, pada sebagian pasien, berujung pada kerusakan ginjal berat. Sementara itu, congenital hepatic fibrosis menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada hati serta dapat memengaruhi saluran empedu dan fungsi hati.
Ketika Keeleigh berusia 12 tahun, pemeriksaan menunjukkan fungsi ginjalnya telah menurun sangat rendah. Ia kemudian menjalani transplantasi hati dan ginjal melalui layanan transplantasi organ NHS di Inggris.
Sebelum transplantasi dilakukan, keluarga Keeleigh sempat menerima perkiraan yang mengkhawatirkan. Dokter menyampaikan bahwa kondisinya begitu serius sehingga ia mungkin tidak dapat bertahan sampai usia 12 tahun. Setelah operasi, tantangan kesehatan tetap ada, termasuk kabar bahwa kesempatan Keeleigh untuk memiliki anak kemungkinan sangat kecil.
Kehamilan setelah transplantasi perlu pemantauan ketat
Kehamilan Keeleigh menunjukkan bahwa transplantasi organ tidak serta-merta menutup peluang seseorang untuk memiliki anak. Namun, kehamilan setelah transplantasi tetap perlu dinilai dengan cermat karena kesehatan ibu dan kondisi organ hasil transplantasi menjadi perhatian.
Sebuah penelitian yang terbit dalam American Journal of Gastroenterology pada 2021 menganalisis 1.131 kehamilan pada 838 perempuan penerima transplantasi hati. Sekitar 80,4 persen kehamilan dalam analisis tersebut berakhir dengan kelahiran hidup.
Meski angka itu menunjukkan banyak kehamilan dapat berujung pada kelahiran, penelitian tersebut juga menemukan risiko komplikasi yang lebih tinggi. Di antaranya persalinan prematur, preeklamsia, dan persalinan melalui operasi caesar.
Penelitian lain terhadap lebih dari 1.000 perempuan penerima transplantasi hati juga menemukan bahwa kehamilan setelah transplantasi dapat menghasilkan bayi yang sehat. Namun, hipertensi, preeklamsia, diabetes gestasional, dan kelahiran prematur tetap perlu diperhatikan.
Konsultasi sebelum merencanakan kehamilan
Perempuan yang menjalani transplantasi umumnya perlu mengonsumsi obat imunosupresan untuk membantu mencegah tubuh menolak organ yang ditransplantasikan. Karena itu, rencana kehamilan perlu dibicarakan dengan dokter, bukan dijalani tanpa konsultasi terlebih dahulu.
Dokter dapat menilai kestabilan organ dan mengevaluasi pengobatan yang digunakan. Sebagian obat perlu ditinjau karena tidak semuanya aman untuk kehamilan. Tinjauan ilmiah mengenai kehamilan setelah transplantasi hati juga merekomendasikan konseling sebelum kehamilan.
Kisah Keeleigh berangkat dari kondisi yang pernah membuat keluarganya khawatir ia tak akan mencapai usia dewasa. Kini, setelah bertahun-tahun hidup dengan organ hasil transplantasi, ia bersiap menyambut anak pertamanya. Bagi perempuan penerima transplantasi yang memiliki harapan serupa, pemeriksaan dan pendampingan tenaga medis menjadi langkah penting untuk memahami peluang sekaligus risiko kehamilan.
