Obesitas Bukan Sekadar Soal Penampilan, Ini Risikonya

Obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat berkaitan dengan gangguan metabolik, bahkan tanpa keluhan. Lemak perut dan perubahan lingkar pinggang perlu diperhatikan.

obesitas-bukan-sekadar-soal-penampilan

Obesitas bukan sekadar persoalan angka pada timbangan atau bentuk tubuh. Kondisi ini merupakan penyakit kronis yang kompleks dan dapat berkaitan dengan gangguan metabolik, bahkan ketika seseorang belum merasakan keluhan. Karena itu, perubahan berat badan dan penumpukan lemak di perut perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat obesitas dialami 23,4 persen orang dewasa di Indonesia, atau hampir satu dari empat orang dewasa. Prevalensinya pada perempuan mencapai 31,2 persen, hampir dua kali angka pada laki-laki yang sebesar 15,7 persen.

Persoalan ini muncul di tengah tantangan gizi yang berlapis. Indonesia masih menghadapi kekurangan gizi seperti stunting, tetapi pada saat yang sama kelebihan berat badan dan obesitas juga menjadi masalah yang perlu ditangani.

Obesitas adalah penyakit kronis, bukan soal kemauan

Dalam peluncuran kampanye edukasi Berani Bicara Berat di Jakarta pada 14 Agustus 2026, para ahli mengajak masyarakat melihat berat badan dari sisi kesehatan, bukan hanya penampilan. Kampanye yang digagas PT Anugerah Pharmindo Lestari itu melibatkan ahli dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).

Ketua HISOBI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono menjelaskan, jaringan lemak bukan sekadar tempat tubuh menyimpan kelebihan energi. Jaringan tersebut juga menghasilkan adipokin, zat yang berkaitan dengan proses peradangan. Ketika jumlah dan aktivitas jaringan lemak meningkat, dampaknya dapat memengaruhi metabolisme dan kesehatan pembuluh darah.

“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia,” kata Prof. Dante.

Pandangan tersebut menunjukkan mengapa obesitas tidak tepat disederhanakan menjadi urusan kurang disiplin atau sekadar perlu mengurangi makan. Penanganannya, menurut Prof. Dante, perlu didukung edukasi dan perubahan perilaku agar orang yang hidup dengan obesitas dapat memperoleh penanganan yang tepat.

Lemak perut dan risiko gangguan metabolik

Obesitas juga berkaitan dengan resistensi insulin. Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir menjelaskan kondisi ini dapat berhubungan dengan sejumlah gangguan metabolik, di antaranya diabetes, kadar kolesterol tinggi, hipertensi, serta meningkatnya risiko penyakit jantung.

Prof. Dante menambahkan, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada pembuluh darah. Kondisi tersebut berkaitan dengan risiko stroke, serangan jantung, dan gangguan ginjal. Risiko itu bisa berkembang tanpa keluhan yang langsung dirasakan, sehingga seseorang belum tentu mengetahui adanya masalah hanya dari kondisi tubuh sehari-hari.

Penumpukan lemak di bagian perut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Lemak viseral, yakni lemak yang berada di sekitar organ dalam perut, berbeda dari lemak yang berada di bagian tubuh lain karena berkaitan dengan produksi berbagai hormon.

“Lemak di perut, di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain,” ujar Prof. Yunir.

Karena itu, tampilan tubuh secara keseluruhan tidak selalu cukup untuk menggambarkan risiko kesehatan. Seseorang yang terlihat tidak terlalu gemuk pun dapat memiliki penumpukan lemak di area perut yang perlu diperhatikan.

Perubahan tubuh yang sebaiknya tidak diabaikan

Ketua Pengurus Pusat PDGKI dr. Erwin Christianto menyarankan masyarakat lebih peka terhadap perubahan tubuh. Pakaian yang terasa semakin sempit, terutama di bagian perut atau lengan, maupun lingkar pinggang yang bertambah dapat menjadi pengingat untuk mengevaluasi kondisi kesehatan.

Perubahan tersebut tidak serta-merta membuktikan seseorang mengalami penyakit tertentu. Namun, menurut dr. Erwin, perubahan tubuh sebaiknya tidak terus diabaikan hanya karena belum muncul keluhan. Pemeriksaan dapat membantu memberi gambaran yang lebih jelas ketika diperlukan.

Prof. Dante menyebut lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan sebagai ukuran yang perlu diperhatikan. Pengukuran ini dapat memberi gambaran mengenai penumpukan lemak di bagian tengah tubuh. Pemeriksaan komposisi tubuh juga dapat membantu melihat kondisi tubuh secara lebih menyeluruh.

Obesitas perlu dibicarakan tanpa stigma dan tidak semata-mata dinilai dari penampilan. Memahami risikonya, memperhatikan perubahan tubuh, serta mencari penanganan yang sesuai dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan. Edukasi yang tepat juga penting agar pembicaraan tentang berat badan beralih dari menyalahkan seseorang menjadi upaya memahami dan menangani kondisi kesehatannya.

Mediaharian