Aturan Quiet Time Hotel: Koridor Diminta Tetap Sunyi

Banyak hotel menerapkan quiet time, umumnya pukul 22.00-06.00. Tamu diminta menjaga suara di kamar dan koridor agar tidak mengganggu istirahat orang lain.

aturan-quiet-time-hotel-koridor-tetap-sunyi

Koridor hotel diminta tetap tenang agar tamu bisa beristirahat, terutama pada malam hari. Banyak hotel menerapkan aturan quiet time atau waktu tenang, umumnya pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat, ketika suara di kamar, lorong, dan area umum perlu dibatasi.

Aturan ini penting diketahui, termasuk oleh tamu yang sedang menikmati staycation. Hotel memang menjadi tempat menginap saat bepergian, tetapi fungsi utamanya juga menyediakan ruang bagi tamu untuk tidur dan memulihkan tenaga.

Informasi dari Hotel 500 Zegrze di Polandia menyebut rentang waktu tenang tersebut banyak diterapkan hotel. Jadwalnya didasarkan pada norma sosial yang diterima secara umum dan peraturan fasilitas akomodasi, sehingga ketentuan di setiap hotel tetap dapat merujuk pada aturan masing-masing.

Quiet time hotel bukan berarti harus hening total

Waktu tenang tidak menuntut suasana benar-benar tanpa suara. Intinya, tamu diminta menahan diri dari perilaku yang berpotensi mengganggu istirahat orang lain. Percakapan dengan suara keras, keributan di kamar, atau kegaduhan saat melintas di koridor termasuk hal yang perlu dihindari.

Permintaan untuk menjaga ketenangan juga berlaku saat tamu berpindah dari satu area ke area lain. Suara di lorong dapat terdengar dari balik pintu kamar, sehingga obrolan atau langkah yang gaduh bisa mengganggu orang yang sedang beristirahat.

Pakar etiket Inggris William Hanson, yang memimpin Institut Tata Krama Inggris di London, menggambarkan koridor hotel seperti katedral. Perumpamaan itu menekankan perlunya menjaga sikap dan volume suara ketika berada di area bersama.

“Koridor hotel harus selalu tenang, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu,” kata Hanson, seperti dikutip BBC.

Menurut Hanson, hotel digunakan untuk tidur, beristirahat, dan bersenang-senang. Namun, kebutuhan setiap tamu tidak selalu sama. Ada orang yang tidur pada malam hari, sementara tamu lain mungkin baru beristirahat pada siang hari setelah bekerja semalaman.

Menjaga suasana tenang di lorong kamar

Karena itu, ketenangan di koridor tidak hanya relevan pada jam malam. Tamu tidak selalu mengetahui keadaan orang lain di dalam kamar. Bisa saja seseorang sedang tidur, bekerja, atau membutuhkan suasana yang tidak bising. Menjaga suara tetap rendah menjadi cara sederhana untuk menghormati kebutuhan tersebut.

Hanson juga menyoroti anak-anak yang berlarian di lorong. Ia bercerita pernah berada di kamar dan mendengar seorang anak mengejar anak lain di koridor. Situasi seperti itu dapat menimbulkan suara yang mengganggu tamu di sekitar, terutama jika berlangsung berulang.

Jika menerima informasi mengenai keributan, staf hotel biasanya akan mendatangi tamu dan mengingatkan mereka dengan sopan. Dalam sebagian besar kasus, teguran tersebut cukup untuk mengembalikan ketenangan.

Namun, hotel dapat mengambil langkah lebih tegas bila kebisingan berulang atau dinilai sudah melampaui batas. Mengacu pada peraturan yang berlaku di fasilitas tersebut, penanganannya bisa melibatkan petugas keamanan. Dalam keadaan luar biasa, hotel dapat menghubungi pihak berwenang yang sesuai atau mengusir tamu.

Bagi tamu, mematuhi waktu tenang berarti memperhatikan suara di kamar sekaligus saat berada di area bersama. Berbicara lebih pelan dan tidak membuat kegaduhan ketika melewati lorong adalah bentuk perhatian kecil yang berdampak bagi orang lain.

Sebelum menginap, tamu dapat memperhatikan informasi mengenai aturan hotel, termasuk ketentuan waktu tenang. Dengan begitu, pengalaman berlibur tetap nyaman tanpa mengorbankan hak tamu lain untuk beristirahat.

Mediaharian