Mengapa Naruto: Shippuden Terasa Berat Ditonton Kini

Naruto: Shippuden tetap memiliki kisah dan pertarungan yang berkesan, tetapi 500 episode, filler, ritme lambat, kilas balik berulang, dan animasi yang tak merata bisa menjadi tantangan bagi penonton masa kini.

mengapa-naruto-shippuden-terasa-berat-ditonton-kini

Naruto: Shippuden masih dikenang sebagai salah satu anime shonen penting pada masanya. Serangan Pain ke Konoha, kebangkitan Akatsuki, dan perjalanan Naruto mengejar cita-citanya tetap memiliki daya tarik. Namun, bagi penonton yang baru memulai atau ingin menontonnya kembali, serial ini bisa terasa lebih melelahkan dibandingkan saat pertama kali tayang.

Perubahan kebiasaan menonton anime ikut memengaruhi pengalaman tersebut. Sejak Shippuden hadir pada 2007, pilihan anime bertambah dan penonton terbiasa dengan cerita yang bergerak lebih cepat. Ketika ditonton sekarang, sejumlah ciri serial mingguan dengan ratusan episode menjadi lebih terlihat.

Jumlah episode Naruto: Shippuden menjadi tantangan pertama

Menonton Naruto: Shippuden berarti bersiap mengikuti 500 episode. Angka itu belum mencakup serial Naruto orisinal yang menjadi awal perjalanan tokoh utamanya, dengan 220 episode tambahan. Bagi penonton yang ingin mengikuti kisah Naruto secara berurutan, komitmen waktunya pun jauh lebih besar.

Panjang serial seperti ini dahulu lebih mudah diterima ketika anime shonen mingguan berdurasi panjang merupakan hal lumrah. Bagi penggemar lama, rentang cerita yang panjang justru menjadi bagian dari daya tarik. Mereka dapat mengikuti perjalanan karakter dalam waktu lama dan menantikan perkembangan kisah dari pekan ke pekan.

Situasinya berbeda bagi penonton baru. Banyak serial modern bisa diselesaikan sebelum satu alur besar Shippuden berakhir. Akibatnya, calon penonton harus menimbang apakah ingin mencurahkan waktu untuk satu perjalanan panjang, sementara ada banyak pilihan lain dengan durasi lebih singkat.

Episode filler dan jeda dari cerita utama

Jumlah episode yang besar mungkin terasa lebih ringan jika semuanya mendorong kisah utama. Namun, sekitar 200 dari 500 episode Shippuden disebut sebagai filler, yakni materi yang tidak berasal langsung dari alur utama manga. Sebagian cerita tambahan itu tetap menarik karena memberi karakter pendukung ruang yang tidak banyak mereka dapatkan dalam versi manga.

Masalahnya terletak pada banyaknya materi tersebut dan cara kemunculannya di tengah serial. Ada bagian-bagian yang dapat dilewati tanpa membuat inti cerita sulit dipahami. Penonton baru pun perlu mencari tahu episode mana yang penting dan mana yang bisa dilewatkan—sebuah pekerjaan tambahan untuk serial yang seharusnya mengundang mereka terus menonton.

Materi tambahan tidak otomatis buruk. Beberapa di antaranya dapat memperkaya pengalaman menonton dan memperlihatkan sisi karakter lain. Namun, ketika jeda dari kisah utama berlangsung panjang, ritme serial menjadi tidak konsisten. Penonton yang ingin segera mengetahui kelanjutan cerita bisa kehilangan momentum.

Ritme lambat dan kilas balik yang berulang

Episode yang mengikuti cerita utama pun tidak selalu bergerak cepat. Sebuah percakapan sederhana kadang diselingi banyak reaksi, gambar dekat, serta pengulangan informasi yang sudah dipahami penonton. Dalam sejumlah pertarungan, penjelasan mengenai jurus dapat mengambil porsi waktu yang hampir sama dengan aksi itu sendiri.

Pola tersebut berkaitan dengan format adaptasi mingguan yang harus menghindari cerita anime mengejar manga. Akibatnya, materi yang tersedia bisa dipanjangkan. Tidak setiap episode mengalami hal serupa—beberapa pertarungan besar justru mengalir dengan sangat baik—tetapi perbedaan antara bagian yang cepat dan lambat dapat terasa mencolok, terutama saat menonton beberapa episode sekaligus.

Kilas balik juga menjadi bagian penting dari Shippuden. Masa lalu membantu menjelaskan tokoh dan memberi makna baru pada peristiwa sebelumnya. Latar belakang Kakashi, misalnya, mengubah cara penonton memahami dirinya, sementara kisah Itachi menggeser pemaknaan sejumlah kejadian terdahulu.

Pengulangan kenangan yang sama, bagaimanapun, berisiko mengurangi dampak emosionalnya. Penonton yang menyaksikan serial saat tayang mingguan memiliki jarak waktu di antara kemunculan kilas balik. Dalam layanan streaming, adegan yang dulu berjarak berbulan-bulan mungkin baru saja ditonton beberapa hari sebelumnya. Jarak yang lebih rapat itu mengubah rasanya.

Kualitas animasi Naruto: Shippuden tidak selalu merata

Serial ini memiliki adegan-adegan dengan animasi mengesankan, termasuk koreografi pertarungan yang ambisius dan gerakan karakter yang ekspresif. Sejumlah bagian masih tampak kuat meski telah berlalu bertahun-tahun. Namun, mutu visual tersebut tidak hadir merata dalam seluruh 500 episode.

Ada episode yang terasa lebih kaku, sementara karakter di latar belakang kadang terlihat kurang rapi. Bagian awal Shippuden juga menunjukkan karakteristik anime televisi akhir 2000-an. Perbedaan visual dari satu episode ke episode lain bisa terasa lebih jelas ketika penonton menontonnya secara beruntun.

Pada akhirnya, tantangan menonton Naruto: Shippuden bukan berarti kisahnya kehilangan kekuatan. Serial ini tetap menawarkan perjalanan karakter dan momen-momen besar yang membuatnya dikenang. Hanya saja, penonton masa kini perlu menyesuaikan ekspektasi: petualangan panjang Naruto menuntut kesabaran, terutama ketika cerita melambat atau berpaling dari alur utama.

Mediaharian