Komnas KIPI: Kematian Bayi di Kampar Tak Terkait Vaksin

Komnas KIPI menyatakan kematian bayi tiga bulan di Kampar tidak terbukti disebabkan vaksinasi. Pemeriksaan menemukan pneumonia dan sepsis, sementara imunisasi tetap dianjurkan sesuai jadwal.

komnas-kipi-kematian-bayi-kampar-tak-terkait-vaksin

Komnas KIPI menyatakan kematian bayi perempuan berusia tiga bulan di Kabupaten Kampar, Riau, tidak terbukti disebabkan oleh vaksinasi. Hasil kajian kausalitas mengklasifikasikan kejadian itu sebagai “inkonsisten”, yakni berkaitan dengan kondisi kesehatan lain di luar imunisasi, setelah pemeriksaan menemukan pneumonia dan sepsis.

Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari mengatakan, berdasarkan informasi dan hasil pemeriksaan yang tersedia, tidak ditemukan bukti bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi yang dialami bayi tersebut. Penilaian ini disampaikan setelah laporan kejadian ditelusuri oleh dinas kesehatan dan tim KIPI di tingkat provinsi serta kabupaten.

Urutan kejadian setelah imunisasi di Kampar

Bayi itu menerima imunisasi DPT-Hb-Hib dosis kedua, PCV dosis pertama, OPV dosis ketiga, dan Rotavirus dosis kedua pada 20 Agustus 2026. Imunisasi diberikan di Posyandu Melati, Bangkinang Kota.

Sekitar tujuh jam setelah imunisasi, bayi mengalami demam. Kondisinya kemudian disertai sesak napas dan kejang berulang, sehingga ia dibawa untuk mendapatkan penanganan medis di RSUD Bangkinang.

Hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan bayi mengalami infeksi paru-paru dan infeksi bakteri. Dokter mendiagnosisnya dengan pneumonia disertai sepsis, lalu memberikan perawatan intensif. Kondisi bayi memburuk dan ia dinyatakan meninggal dunia pada 22 Agustus 2026.

Hindra menjelaskan bahwa hasil kajian tidak menemukan bukti yang menghubungkan vaksinasi dengan kematian tersebut. Dalam penilaian KIPI, kejadian yang berlangsung setelah imunisasi tidak otomatis berarti disebabkan oleh vaksin. Hubungan sebab-akibat perlu ditelaah berdasarkan data klinis dan bukti yang tersedia.

Investigasi menelusuri kondisi pasien dan layanan

Setelah menerima laporan dugaan KIPI serius, Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Komda KIPI Riau, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar melakukan serangkaian penelusuran. Tim berkoordinasi, mengunjungi keluarga, mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien, serta menelaah data pelayanan imunisasi.

Penelaahan juga mencakup vaksin yang digunakan dan pengelolaan rantai dingin. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari investigasi untuk mengkaji kejadian dan memastikan penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien serta pelaksanaan imunisasi.

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Indri Yogyaswari mengatakan mutu dan keamanan vaksin menjadi prioritas dalam program imunisasi. Vaksin yang digunakan secara nasional telah melalui evaluasi dan pengawasan sesuai ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem surveilans KIPI. Setiap laporan dugaan kejadian serius ditindaklanjuti melalui investigasi dan kajian sesuai mekanisme yang berlaku. Kemenkes memahami kekhawatiran orang tua saat anak mengalami gangguan kesehatan setelah imunisasi, tetapi menegaskan bahwa waktu kejadian saja belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.

Imunisasi tetap dilanjutkan sesuai jadwal

Kemenkes menyatakan imunisasi tetap perlu diberikan sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku. Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Indri juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan Bulan Imunisasi Kejar yang berlangsung pada 1 hingga 31 Oktober 2026. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan perlindungan anak yang belum memperoleh imunisasi sesuai jadwal.

Di tingkat daerah, Dinas Kesehatan Riau melakukan pembinaan, pendampingan, pemantauan, dan evaluasi terhadap tenaga kesehatan serta fasilitas pelayanan. Tenaga vaksinator diarahkan menerapkan prosedur mulai dari skrining sasaran, pemberian imunisasi, penyimpanan vaksin, hingga pemeliharaan rantai dingin.

Prosedur pelayanan juga mencakup observasi setelah imunisasi, penanganan KIPI, dan mekanisme rujukan. Pemerintah mengimbau orang tua melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal, sembari memastikan setiap laporan kondisi kesehatan setelah imunisasi tetap ditelaah secara terbuka dan berbasis bukti.

Kasus di Kampar menjadi pengingat bahwa gejala yang muncul setelah imunisasi perlu diperiksa, tetapi tidak serta-merta menunjukkan vaksin sebagai penyebab. Orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jadwal imunisasi dan langkah yang perlu dilakukan jika anak mengalami keluhan setelah mendapat vaksin.

Mediaharian