IHSG dan Rupiah Menguat, Investor Hadapi Tekanan Global

IHSG naik 0,46 persen dan rupiah menguat ke Rp 17.868 per dolar AS pada Jumat. Namun, arus keluar dana asing dan ketidakpastian global masih membayangi pasar.

ihsg-rupiah-menguat-investor-hadapi-tekanan-global

IHSG dan rupiah sama-sama menutup perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, dengan penguatan, tetapi tekanan dari luar negeri masih membayangi pasar keuangan Indonesia. Konflik di Timur Tengah, arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta arus keluar dana asing menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,46 persen atau 27,38 poin ke posisi 6.036,89 pada akhir sesi. Sementara itu, rupiah menguat 0,40 persen menjadi Rp 17.868 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp 17.940.

Perbaikan pada dua indikator tersebut belum sepenuhnya menghapus ketidakpastian. Pergerakan pasar masih dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi global.

IHSG bergerak naik-turun di tengah tekanan jual

Perdagangan saham berlangsung bergejolak. IHSG dibuka pada level 6.018,08, sempat menanjak hingga 6.053,23, lalu berbalik turun sebelum menyentuh posisi terendah 5.979,98. Indeks akhirnya kembali menguat menjelang penutupan.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan 319 saham naik, 134 saham tidak berubah, dan 337 saham melemah. Artinya, kenaikan indeks tidak mencerminkan penguatan merata di seluruh saham yang diperdagangkan.

Volume transaksi mencapai 120,68 miliar saham dengan nilai Rp 12,25 triliun. Sepanjang hari, saham berpindah tangan sebanyak 1,61 juta kali. Sektor energi, konsumer primer, teknologi, dan finansial menjadi penopang indeks.

Sejumlah saham yang turut menopang IHSG antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Astra International Tbk. (ASII), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Arus dana asing masih menjadi perhatian

Penguatan IHSG terjadi ketika investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Di seluruh pasar, nilai net foreign outflow mencapai Rp 1,27 triliun. Di pasar reguler, angkanya tercatat Rp 1,31 triliun.

Akumulasi sejak awal 2026 menunjukkan tekanan yang lebih besar. Arus keluar bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp 81,98 triliun, sedangkan di pasar reguler mencapai Rp 108,73 triliun. Data ini menjadi salah satu latar yang membuat pemulihan indeks perlu dibaca dengan hati-hati.

Pergerakan rupiah memberi sedikit ruang lega. Mata uang Garuda bergerak pada kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS dan menguat seiring pelemahan indeks dolar AS. Pada pukul 15.00 WIB, indeks DXY berada di 101,877 atau turun 0,23 persen.

Pasar menantikan data tenaga kerja AS, terutama non-farm payrolls (NFP), untuk memperoleh petunjuk tentang kondisi ekonomi dan arah kebijakan The Fed. Pemerintah juga menyoroti rupiah yang sebelumnya sempat mendekati Rp 18.000 per dolar AS. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut penerbitan surat utang pemerintah di pasar global turut membantu memperkuat cadangan devisa yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Data tenaga kerja AS mengubah perkiraan pasar

Di Amerika Serikat, bursa saham ditutup menguat pada Jumat. Dow Jones naik sekitar 0,5 persen, S&P 500 bertambah 0,7 persen, sedangkan Nasdaq Composite mencatat kenaikan terbesar, 1,2 persen. Saham teknologi menjadi pendorong utama, sementara perkembangan pengiriman kendaraan Tesla dan pemulihan bisnis Nike ikut menjadi perhatian.

Penguatan itu menyusul laporan bahwa ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah perkiraan pasar sebanyak 84.000. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,2 persen, melampaui proyeksi 4,1 persen. Angka tersebut memperlihatkan perlambatan perekrutan dan memperkuat harapan bahwa The Fed tidak perlu kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Nasdaq sempat menyentuh rekor tertinggi sebelum turun dari puncaknya. Saham Nvidia juga mencapai rekor untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara AMD, CrowdStrike, dan Palo Alto Networks turut mencetak rekor. Namun, kenaikan indeks menyusut ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali naik, menandakan investor masih peka terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

Prospek pasar tetap bergantung pada sentimen global

Di dalam negeri, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun tercatat tidak berubah, yakni 7,159 persen. Pergerakan ini melengkapi gambaran pasar yang belum bergerak seragam: saham dan rupiah menguat, tetapi arus asing masih keluar dan faktor global tetap membayangi.

Bagi investor, satu sesi penguatan belum cukup untuk memastikan tekanan telah berakhir. Perkembangan konflik Timur Tengah, data ekonomi AS, dan respons The Fed akan terus menjadi perhatian dalam membaca arah pasar berikutnya. Menimbang faktor-faktor tersebut dapat membantu investor menilai risiko tanpa hanya berpatokan pada kenaikan indeks harian.

Mediaharian