Lizarazu Kritik Sikap Mbappe Usai Ballon d’Or

Bixente Lizarazu menilai Kylian Mbappe perlu mengurangi sikap individualistis dan membuktikan kontribusi yang lebih besar bagi tim setelah finis kedua di Ballon d’Or.

lizarazu-kritik-sikap-mbappe-usai-ballon-dor

Kylian Mbappe mendapat teguran keras dari mantan pemain Prancis, Bixente Lizarazu, setelah finis di posisi kedua dalam pemungutan suara Ballon d’Or. Lizarazu menilai penyerang Real Madrid itu terlalu menonjolkan diri dan perlu kembali menunjukkan sikap sebagai bagian dari tim.

Kritik tersebut disampaikan Lizarazu dalam program televisi Téléfoot. Ia menyoroti perilaku Mbappe selama acara penganugerahan, yang menurutnya memberi kesan bahwa perhatian hanya layak tertuju kepada sang pemain. “Dia benar-benar kehilangan kendali selama acara Ballon d’Or,” kata Lizarazu, seperti dikutip Goal.com.

Lizarazu juga menilai Mbappe perlu mengembalikan kerendahan hati dan memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Menurut mantan bek timnas Prancis itu, seorang pemain tidak cukup hanya membangun citra diri atau mengumpulkan gol. Ukuran penting lainnya adalah kemampuan membantu tim meraih kemenangan.

Selisih tipis di bawah Harry Kane

Mbappe menempati peringkat kedua dalam perebutan penghargaan tersebut. Harry Kane, penyerang Bayern Munich, berada di posisi teratas dengan 1.055 poin. Mbappe mengumpulkan 1.027 poin, sehingga jarak di antara keduanya hanya 28 poin. Lamine Yamal dari Barcelona melengkapi tiga besar dengan 881 poin.

Hasil itu menempatkan kritik Lizarazu dalam konteks persaingan penghargaan individu yang ketat. Namun, pokok keberatannya bukan semata-mata posisi Mbappe dalam pemungutan suara. Ia menyoroti cara sang pemain membawa diri dan kaitannya dengan kerja kolektif, terutama ketika kembali membela timnas Prancis.

Lizarazu berharap Mbappe memperlihatkan kembali semangat kebersamaan yang menurutnya menjadi bagian dari kekuatan Les Bleus. Ia mengingatkan bahwa tim nasional Prancis pernah meraih kemenangan dengan mengandalkan nilai kolektif. Karena itu, baginya, peran pemain bintang bukan hanya mencetak gol, melainkan juga mengarahkan kemampuan individu untuk kepentingan tim.

Ia turut mengaitkan tuntutan tersebut dengan kiprah Mbappe di klub dan tim nasional belakangan ini. Dalam pandangan Lizarazu, produktivitas gol belum cukup apabila tim yang dibela tidak berhasil menang. Penilaian itu menjadi sorotan tersendiri karena Mbappe dikenal sebagai salah satu pencetak gol utama, tetapi Lizarazu meminta kontribusinya dilihat dari hasil bersama, bukan statistik pribadi saja.

Rekam jejak Lizarazu di timnas dan Bayern

Kritik Lizarazu datang dari sosok yang memiliki pengalaman panjang di level tertinggi. Ia merupakan bagian dari timnas Prancis yang menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Ia juga pernah bermain untuk Bayern Munich pada 1997 hingga 2006, dengan koleksi enam gelar liga, lima piala domestik, serta Liga Champions Eropa bersama klub Jerman tersebut.

Pengalaman itu menjadi latar bagi penekanannya pada hubungan antara kemampuan individu dan keberhasilan kolektif. Lizarazu tidak menyangkal bahwa Mbappe mampu mencetak banyak gol. Namun, ia menganggap pencapaian itu harus diikuti kemampuan membawa klub maupun tim nasional menuju kemenangan. Standar yang ia sampaikan berpusat pada dampak pemain bagi hasil akhir pertandingan.

Dalam laporan Goal.com, Lizarazu juga meminta Mbappe kembali ke timnas Prancis dengan memperlihatkan sikap yang mengutamakan kepentingan bersama. Pesan itu sekaligus menjadi tuntutan bagi pemain yang berada di pusat perhatian: keunggulan pribadi perlu berjalan seiring dengan kontribusi bagi rekan setim.

Selebrasi gol ikut menyita perhatian

Tak lama setelah hasil Ballon d’Or, Mbappe mencetak gol untuk Real Madrid saat timnya menang 3-0 atas Racing Santander dalam pertandingan La Liga pada Minggu. Selebrasinya menjadi bahan pembicaraan setelah ia mengarahkan jari ke kamera televisi. Gestur itu ditafsirkan sebagai isyarat bahwa dirinya adalah nomor satu.

Laporan tersebut tidak menyebutkan penjelasan Mbappe mengenai maksud selebrasi itu. Karena itu, gestur tersebut tetap berada dalam ranah penafsiran, bukan pernyataan langsung sang pemain. Meski demikian, kemunculannya setelah Mbappe gagal merebut penghargaan menambah perhatian terhadap cara ia menampilkan diri di hadapan publik.

Untuk saat ini, kritik Lizarazu berpusat pada harapan agar Mbappe membawa pengaruh lebih besar terhadap hasil tim, bukan hanya catatan gol. Tantangan berikutnya bagi penyerang Real Madrid itu adalah menunjukkan kontribusi kolektif saat kembali memperkuat timnas Prancis, sebagaimana tuntutan yang disampaikan mantan rekannya tersebut.

Mediaharian