Kehamilan Ektopik Pecah, Pasien di Vietnam Kehilangan 1 Liter Darah

Pasien di Vietnam menjalani operasi laparoskopi setelah kehamilan ektopik pecah menyebabkan perdarahan sekitar satu liter. Kondisinya stabil setelah penanganan darurat.

Rumah Sakit Umum Internasional Hai Phong – Vinh Bao di Vietnam berhasil menangani pasien dengan kehamilan ektopik pecah yang kehilangan sekitar satu liter darah. Pasien perempuan berinisial NTT itu menjalani operasi laparoskopi setelah tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis akibat perdarahan di rongga perut.

NTT, yang lahir pada 1997 dan tinggal di komune Nguyen Binh Khiem, datang dengan keluhan sakit perut. Kulit dan selaput lendirnya tampak pucat. Pemeriksaan serta tes yang dilakukan dokter memastikan kehamilan ektopik telah pecah dan memicu perdarahan internal.

Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa, terutama karena pasien juga mengalami denyut nadi cepat dan tekanan darah rendah saat masuk ke ruang gawat darurat. Tim medis segera melakukan resusitasi, berkonsultasi, lalu memindahkan pasien ke unit perawatan intensif untuk mendapat penanganan darurat.

Operasi laparoskopi untuk menghentikan perdarahan

Operasi dilakukan oleh tim Departemen Kebidanan bersama Departemen Anestesi dan Resusitasi. Melalui prosedur laparoskopi, dokter menangani cedera dan berupaya mengendalikan sumber perdarahan.

Rumah sakit memperkirakan darah yang hilang mencapai sekitar satu liter. Jumlah itu setara dengan 20–25 persen volume darah orang dewasa dan berisiko mengancam jiwa bila tidak segera ditangani.

Setelah operasi, pasien menjalani resusitasi dan menerima dua unit konsentrat sel darah merah. Kondisinya dilaporkan stabil sekitar satu jam setelah tindakan. Penanganan cepat menjadi bagian penting dalam merespons keadaan darurat tersebut, mengingat pasien datang dengan tanda-tanda kehilangan darah yang serius.

“Saat masuk ke ruang gawat darurat, pasien menunjukkan denyut nadi cepat dan tekanan darah rendah,” kata Dr. Dang Dinh Giang, Kepala Departemen Kebidanan rumah sakit tersebut.

Kehamilan ektopik terjadi ketika kehamilan berkembang di luar rahim. Dalam kasus ini, kehamilan yang pecah menyebabkan darah masuk ke rongga perut. Rumah sakit memperingatkan bahwa kondisi itu dapat berkembang menjadi syok hemoragik dan mengancam nyawa jika tidak diketahui serta ditangani dengan segera.

Kenali gejala dan segera cari pertolongan

Dokter mengimbau perempuan usia reproduktif untuk tidak mengabaikan keterlambatan menstruasi yang disertai nyeri perut tidak biasa atau perdarahan vagina. Gejala seperti nyeri perut parah, pusing, kelelahan, dan kulit pucat juga memerlukan perhatian medis segera.

Gejala-gejala tersebut tidak boleh dipastikan sendiri sebagai kehamilan ektopik. Namun, saran rumah sakit menekankan pentingnya mendatangi fasilitas medis untuk pemeriksaan ketika keluhan muncul, khususnya bila rasa sakit memburuk atau tubuh menunjukkan tanda-tanda kondisi darurat.

Kasus NTT memperlihatkan bahwa perdarahan akibat kehamilan ektopik pecah dapat membuat kondisi pasien memburuk dengan cepat. Dalam kejadian ini, tim rumah sakit melakukan resusitasi, operasi, dan pemberian darah setelah pasien tiba dalam keadaan kritis. Penanganan yang tepat waktu membuat kondisinya stabil setelah prosedur.

Rumah sakit tidak merinci waktu kejadian maupun kondisi pasien setelah laporan tersebut. Meski demikian, pesan kewaspadaannya jelas: keterlambatan menstruasi, nyeri perut yang tidak biasa, atau perdarahan vagina patut diperiksakan. Bila keluhan disertai nyeri berat, pusing, kelelahan, atau pucat, pertolongan darurat perlu segera dicari agar kondisi berbahaya dapat ditangani secepat mungkin.

Mediaharian