ITPLN Rawat 13 Wadah Wolbachia untuk Tekan DBD

ITPLN memfasilitasi pengembangbiakan nyamuk ber-Wolbachia untuk mendukung pengendalian DBD di Jakarta Barat. Sebanyak 13 wadah di lingkungan kampus dipantau secara berkala.

itpln-rawat-13-wadah-wolbachia-untuk-tekan-dbd

Institut Teknologi PLN (ITPLN) mendukung upaya pengendalian demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Barat dengan memfasilitasi pengembangbiakan nyamuk ber-Wolbachia di lingkungan kampus. Sebanyak 13 wadah pengembangbiakan kini dipantau dan dirawat secara berkala.

Program orang tua asuh (OTA) Wolbachia itu melibatkan ITPLN, kelurahan, dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Selain menyediakan lokasi, pihak kampus ikut memastikan media pengembangbiakan terpelihara dan dapat diperiksa secara rutin.

Manajer Humas dan Stakeholder ITPLN, Abdul Farid, mengatakan kampus berkomitmen mendukung program tersebut secara berkelanjutan. Menurut dia, keterlibatan kampus diharapkan membantu memperkuat pencegahan DBD di lingkungan perguruan tinggi maupun kawasan sekitarnya.

“ITPLN menyambut baik dan berperan aktif dalam mendukung upaya pengendalian DBD di Jakarta Barat, khususnya di lingkungan kampus. Kami memfasilitasi pelaksanaan program OTA Wolbachia ini untuk memastikan media pengembangbiakan nyamuk Wolbachia terpelihara dengan baik serta dapat dipantau secara berkala,” ujar Farid dalam keterangannya pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Pemantauan Wolbachia dilakukan berkala

Perawatan wadah pengembangbiakan mencakup penggantian air, pembersihan, serta penambahan kembali media dan pakan. Langkah itu dilakukan untuk mendukung perkembangan nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi dewasa.

Farid menyebut pemantauan di kampus menunjukkan perkembangan nyamuk di sejumlah wadah berjalan baik. ITPLN juga memastikan sarana yang digunakan dirawat sesuai kebutuhan, sementara pemeriksaan dilakukan secara berkala bersama petugas kesehatan.

Petugas Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Dinda Nara, mengatakan pemantauan di ITPLN telah dilakukan empat kali. Dalam setiap kunjungan, petugas mengisi kembali media pengembangbiakan dan menghitung selongsong pupa untuk melihat perkembangan nyamuk.

“Dari hasil pemantauan hari ini, nyamuknya sudah berkembang dan sebagian sudah terbang. Dari tiga ember sampel, kami hitung selongsong pupa skin ada yang mencapai 221, 336, 238 pupa. Artinya, Wolbachia di ITPLN berhasil berkembang dengan baik,” kata Dinda.

Penghitungan itu menjadi salah satu cara petugas memantau keberhasilan siklus pengembangbiakan. Dari tiga wadah yang diperiksa, jumlah selongsong pupa tercatat lebih dari 200. Salah satunya mencapai 336, sementara dua wadah lain masing-masing tercatat 221 dan 238.

Bagaimana bakteri Wolbachia bekerja?

Dinda menjelaskan, Wolbachia adalah bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada sejumlah serangga. Dalam program pengendalian DBD, bakteri tersebut digunakan untuk membantu menekan kemampuan nyamuk Aedes aegypti menularkan virus dengue.

Proses pengembangbiakan dimulai dengan menempatkan telur pada media tertentu. Telur kemudian menetas menjadi larva atau jentik, berkembang melalui beberapa tahap, lalu berubah menjadi pupa sebelum menjadi nyamuk dewasa. Setiap tahap dipantau petugas.

Selongsong pupa dihitung untuk mengetahui perkembangan nyamuk. Menurut Dinda, jumlah lebih dari 100 menjadi salah satu parameter bahwa perkembangan dinilai baik. Setelah pemeriksaan selesai, wadah dibersihkan dan diisi kembali agar siklus pengembangbiakan dapat berlanjut.

“Setelah telur menetas menjadi jentik, proses perkembangannya berlangsung hingga menjadi pupa dan kemudian nyamuk dewasa. Kami melakukan penghitungan selongsong pupa untuk melihat keberhasilan perkembangan nyamuk. Parameternya, apabila jumlah selongsong sudah lebih dari 100, berarti perkembangannya dinilai baik,” ujar Dinda.

Program meluas ke wilayah Jakarta Barat

Program Wolbachia tidak hanya berjalan di lingkungan ITPLN. Dinda mengatakan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat juga melakukan pemantauan di sejumlah wilayah dengan pendekatan bertahap, antara lain karena keterbatasan sumber daya manusia.

Saat ini, program tersebut telah berjalan di Kecamatan Kembangan dan sedang berjalan di Kecamatan Cengkareng. Pelaksanaannya, kata Dinda, dipengaruhi karakteristik wilayah serta kebutuhan koordinasi dengan kelurahan, RW, dan puskesmas.

Cengkareng membutuhkan waktu lebih panjang karena jumlah kasus dan kepadatan wilayah yang perlu dipantau cukup tinggi. Di wilayah tertentu, koordinasi dengan unsur setempat dapat berlangsung lebih cepat.

Di ITPLN, pemeriksaan berkala akan terus dilakukan untuk memastikan wadah tetap berfungsi dan perkembangan nyamuk berlangsung sesuai target. Kolaborasi kampus, pemerintah wilayah, dan petugas kesehatan menjadi bagian dari upaya pencegahan DBD yang juga menyasar masyarakat di sekitar kampus.

Mediaharian