Keracunan Makanan Bisa Sisakan Gangguan Berbulan-bulan
Gejala utama keracunan makanan sering reda dalam beberapa hari. Namun, sebagian orang masih mengalami kembung, perubahan pola BAB, atau nyeri perut selama berbulan-bulan.
Keracunan makanan umumnya membaik dalam beberapa hari, tetapi hilangnya muntah dan diare tidak selalu menandai pulihnya saluran pencernaan. Sebagian orang masih mengalami kembung, perubahan pola buang air besar, atau rasa tidak nyaman setelah makan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Keracunan makanan terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, maupun racun. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), sekitar 48 juta orang di negara itu mengalami penyakit bawaan makanan setiap tahun.
Dokter spesialis gastroenterologi Beth Israel Deaconess Medical Center yang berafiliasi dengan Harvard, Dr. Alexander Goldowsky, menjelaskan bahwa keluhan pencernaan masih dapat muncul setelah infeksi penyebabnya teratasi. Pemulihan saluran cerna, dengan demikian, bisa berlangsung lebih lama daripada gejala utama.
Berapa lama gejala keracunan makanan berlangsung?
Gejala yang lazim meliputi muntah, diare, kram perut, kelelahan, nyeri tubuh, dan terkadang demam ringan. Pada banyak kasus, keluhan berlangsung sekitar 12 hingga 48 jam, lalu berangsur membaik dalam beberapa hari.
Lama pemulihan bergantung pada jenis kuman dan beratnya infeksi. Infeksi bakteri seperti E. coli, Salmonella, dan Campylobacter dapat memerlukan waktu sekitar satu minggu hingga 10 hari untuk pulih. Sementara itu, infeksi parasit Cyclospora yang tidak ditangani dapat menimbulkan gejala selama beberapa minggu atau lebih.
Sesudah muntah dan diare berhenti, seseorang mungkin tetap merasa lelah, kembung, atau lebih sensitif terhadap makanan tertentu. Pada sebagian kecil kasus, gangguan pencernaan bertahan berbulan-bulan, bahkan—lebih jarang—hingga bertahun-tahun setelah infeksi awal teratasi.
Usia dan kondisi tubuh turut memengaruhi perjalanan penyakit. Anak-anak, orang berusia di atas 65 tahun, ibu hamil, serta orang yang menggunakan obat penekan sistem kekebalan tubuh memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit yang berat atau berkepanjangan.
Gangguan pencernaan setelah infeksi
Infeksi saluran cerna terkadang diikuti gangguan yang menetap meskipun kuman penyebabnya sudah tidak aktif. Dua kondisi yang dapat muncul ialah sindrom iritasi usus pascainfeksi atau post-infection irritable bowel syndrome (PI-IBS), serta dispepsia fungsional pascainfeksi atau post-infection functional dyspepsia (PIFD).
PI-IBS dapat menyebabkan nyeri perut berulang dan perubahan pola buang air besar, seperti diare, sembelit, atau pergantian di antara keduanya. PIFD lebih sering ditandai kembung, rasa tidak nyaman di bagian atas perut, atau cepat kenyang meskipun baru makan sedikit.
Tinjauan ilmiah pada 2024 menemukan sekitar satu dari tujuh orang mengalami sindrom iritasi usus setidaknya tiga bulan setelah infeksi saluran pencernaan. Sekitar satu dari delapan orang juga mengalami dispepsia fungsional pascainfeksi. Angka tersebut menunjukkan keluhan berkepanjangan bukan hal yang sepenuhnya langka.
Mengapa keluhan bisa bertahan?
Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Sejumlah ahli menduga infeksi dapat meninggalkan perubahan pada saluran pencernaan, antara lain peradangan tingkat rendah, saraf usus yang menjadi lebih sensitif, perubahan lapisan pelindung usus, atau ketidakseimbangan mikrobioma—kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran cerna.
Antibiotik juga dapat memengaruhi keseimbangan bakteri usus. Risiko keluhan berkepanjangan cenderung lebih tinggi setelah infeksi berat atau ketika antibiotik diperlukan. Namun, antibiotik tidak selalu dibutuhkan untuk keracunan makanan dan penggunaannya perlu berdasarkan penilaian tenaga medis.
Perawatan dan tanda bahaya yang perlu diwaspadai
Menurut informasi yang dirujuk dari Harvard Health, sebagian besar kasus keracunan makanan dapat membaik dengan istirahat dan mengganti cairan yang hilang akibat muntah atau diare. Larutan rehidrasi oral dapat membantu mengganti cairan serta elektrolit tubuh.
Segera cari pertolongan medis jika terjadi diare berdarah, demam tinggi, muntah terus-menerus hingga tidak mampu minum, atau nyeri perut berat. Buang air kecil yang sangat sedikit, pusing, dan kelemahan berat juga dapat menjadi tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan.
Keluhan yang tidak kunjung mereda atau justru memburuk patut dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama pada kelompok yang lebih rentan. Mengenali tanda bahaya dan menjaga kecukupan cairan membantu menghadapi masa pemulihan, tetapi pemeriksaan medis tetap penting bila kondisi terasa berat.
