Nyeri Saat Berhubungan Seks: Lima Kemungkinan Penyebab

Nyeri saat berhubungan seks dapat berkaitan dengan vagina kering, infeksi, kondisi organ reproduksi, atau faktor psikologis. Lokasi dan waktu nyeri membantu dokter menentukan pemeriksaan.

nyeri-saat-berhubungan-seks-lima-kemungkinan-penyebab

Nyeri saat berhubungan seks bisa terasa di pintu vagina maupun di bagian dalam panggul. Rasa sakit yang muncul berulang, terasa terbakar, berdenyut, atau seperti robekan patut diperhatikan karena penyebabnya beragam, mulai dari vagina kering hingga infeksi.

Keluhan tersebut dikenal sebagai dispareunia. Nyeri dapat timbul sebelum, selama, atau setelah hubungan intim. Menurut ulasan Popmama.com, faktor pemicunya bisa berasal dari kondisi fisik, psikologis, atau gabungan keduanya. Karena itu, lokasi dan waktu munculnya nyeri dapat membantu dokter menelusuri penyebab, tetapi tidak cukup untuk memastikan diagnosis sendiri.

Lima kelompok penyebab yang perlu dikenali

Pertama, vagina kering. Pelumasan yang kurang dapat membuat hubungan intim terasa tidak nyaman atau menyakitkan. Informasi yang tersedia menyebut pelumas berbahan dasar air sebagai salah satu cara untuk mengurangi nyeri. Pemanasan yang lebih lama juga dapat membantu tubuh menghasilkan pelumas alami.

Kedua, infeksi. Dokter dapat memeriksa area panggul untuk mencari tanda infeksi ketika pasien mengeluhkan nyeri. Jenis infeksi maupun gejala khususnya tidak dijelaskan dalam bahan yang tersedia, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah kondisi ini memang menjadi penyebab.

Ketiga, kelainan pada struktur organ reproduksi. Pemeriksaan panggul dapat membantu dokter menemukan tanda perubahan atau kelainan. Jika diperlukan, ultrasonografi panggul digunakan untuk memeriksa kondisi lebih lanjut.

Keempat, kista, fibroid rahim, atau endometriosis. Ketiganya termasuk kondisi yang dapat dicari melalui ultrasonografi panggul ketika dokter menelusuri sumber nyeri. Rasa sakit di bagian dalam panggul dapat menjadi petunjuk untuk pemeriksaan, tetapi bukan penanda pasti bahwa salah satu kondisi tersebut ada.

Kelima, faktor psikologis atau pengalaman emosional. Trauma, pelecehan seksual, dan masalah emosional dapat berkaitan dengan nyeri saat berhubungan intim. Faktor ini dapat hadir sendiri atau bersamaan dengan penyebab fisik. Konseling, termasuk konseling bersama pasangan, dapat dipertimbangkan bila persoalan emosional atau komunikasi ikut memengaruhi keluhan.

Lokasi dan waktu nyeri membantu dokter

Keluhan nyeri tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang merasakannya di bagian luar, tepatnya di lubang vagina, sementara yang lain mengalami nyeri lebih dalam. Sebagian menggambarkan rasa sakit seperti terbakar atau berdenyut, sedangkan sebagian lain merasa seperti ada robekan. Catatan tentang lokasi, intensitas, dan kapan nyeri muncul akan membantu dokter memahami pola keluhan.

Popmama.com mengutip perkiraan American Academy of Family Physicians bahwa 20 persen perempuan di Amerika mengalami dispareunia. Sementara itu, American College of Obstetricians and Gynecologists memperkirakan 75 persen perempuan pernah mengalaminya pada suatu waktu dalam hidup. Kedua angka itu menggambarkan cakupan yang berbeda, sehingga tidak sebaiknya dibaca sebagai ukuran untuk kelompok atau periode yang sama.

Dalam pemeriksaan, dokter dapat menanyakan riwayat kesehatan reproduksi dan pengalaman seksual. Pemeriksaan panggul bisa dilakukan untuk mencari tanda infeksi atau kelainan struktur. Bergantung pada kondisi pasien, pemeriksaan lanjutan dapat mencakup ultrasonografi, tes urine, tes alergi, tes kultur, atau konseling.

Penanganan bergantung pada penyebab

Perawatan ditentukan setelah penyebab nyeri dinilai. Dokter dapat merekomendasikan obat topikal atau obat yang dikonsumsi, termasuk ospemifene, sesuai kondisi pasien. Terapi desensitisasi dan terapi seksual juga dapat menjadi pilihan. Jika nyeri berkaitan dengan pengalaman traumatis atau tekanan emosional, konseling dapat membantu menangani faktor yang mendasarinya.

Untuk mengurangi ketidaknyamanan, pasangan dapat mencoba pelumas berbahan dasar air, memberi waktu lebih lama untuk pemanasan, serta memilih posisi yang terasa nyaman. Komunikasi juga diperlukan agar pasangan dapat menyesuaikan aktivitas ketika nyeri muncul. Langkah-langkah tersebut tidak menggantikan pemeriksaan apabila keluhan berulang atau terasa intens.

Jika rasa sakit terus terjadi, konsultasikan keluhan kepada dokter dan jelaskan kapan serta di bagian mana nyeri dirasakan. Pemeriksaan akan membantu menentukan apakah diperlukan tes lanjutan dan perawatan tertentu. Bagi pasien yang baru melahirkan, Popmama.com juga menyebut anjuran menunggu setidaknya enam minggu sebelum kembali berhubungan intim.

Mediaharian